Batik Premium Jawa Timur

Batik Premium Jawa Timur
Persiapan perajin batik Jatim jelang pameran di Galeri Seni House of Sampoerna (HoS), Surabaya.

Berbeda dengan motif batik Jawa Tengah yang membawa motif Keraton yang seharusnya hanya boleh digunakan oleh keluarga Keraton, batik Jawa Timur lebih dikenal sebagai batik rakyat karena itu motif dan warnanya lebih bebas tanpa terikat oleh pakem-pakem yang sudah ada. Teknik kerakyatan ini yang membawa kesan seakan batik Jawa Timur mempunyai kualitas yang tidak sebaik batik Jawa Tengah.

Anggapan itulah yang mendorong KIBAS menghadirkan koleksi batik Jawa Timur yang eksklusif dan berkualitas tinggi dalam pameran batik dengan tema ”Batik Premium Jawa Timur” yang digelar di Galeri Seni House of Sampoerna (HoS), Surabaya mulai 3 Oktober-9 November 2013.

Batik premium merupakan batik yang proses pembuatannya menggunakan canting khusus yang disebut Canting Nol, dengan teknik penggambaran yang teliti sehingga menghasilkan karakter garis yang halus dan rapi, namun tegas.

Kualitas bahan batik yang tinggi, disertai motif yang penuh, halus, rapi, dengan membawa keanekaragaman motif khas masing-masing daerah adalah hal-hal yang ingin dikenalkan di pameran ini. Seperti batik bermotif Kembang Suruh karya Sodiq, seorang perajin asal Tulungagung yang memperlihatkan bagaimana pembuatan motif ini memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi.

Lain halnya dengan batik koleksi dari Hananto yang lebih menekankan pada arti dibalik motifnya yaitu Zen Garden yang mempunyai komposisi Yin dan Yang, sesuai filosofi Tionghoa yang digunakan untuk mendeskripsikan sifat kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan di dunia ini namun mereka saling membangun satu sama lain. Sebanyak 30 lembar kain batik yang ditampilkan dalam pameran ini merupakan koleksi dari beberapa kolektor serta perajin di Jawa Timur.

“Tak hanya bertujuan untuk memperkenalkan kualitas dan ciri khas batik dari masing-masing daerah kepada masyarakat, melalui pameran ini, diharapkan dapat menggugah masyarakat agar semakin bangga menggunakan batik Jawa Timur” ujar Lintu selaku Ketua KIBAS.

Dilatarbelakangi oleh komitmen untuk terus mengapresiasi dan mengembangkan batik Jawa Timur sebagai kekayaan budaya bangsa mendorong KIBAS untuk melakukan inovasi sesuai dengan perkembangan teknologi. Berbagai kegiatan untuk meningkatkan nilai ekonomis batik Jawa Timur dengan melalui pendidikan, penelitian, dan pelatihan tentang batik berdasarkan keunggulan dan keunikan masing-masing terus dilakukan oleh KIBAS dengan dukungan dari tenaga profesional.

Pada pameran tahun 2014 ini, KIBAS sekaligus juga ingin memperkenalkan canting korek yaitu canting dengan menggunakan korek sebagai media pemanasnya. Seperti halnya canting bambu dan canting elektrik yang mereka kembangkan pada tahun 2010-2011, canting korek diharapkan dapat semakin mempermudah proses pembuatan batik karena mudah dibawa dan tidak memerlukan listrik maupun kompor.

Tidak hanya inovasi alat membatik, ditahun 2012 KIBAS mencoba mengeluarkan terobosan baru dalam teknik pewarnaan yakni pewarnaan dengan menggunakan bahan herbal seperti jambal, trenguli, ulin, jalawe, tom nila, kembang teleng, bawang merah, mahoni, jambe/pinang, gambir, jambu biji, mangga, dan alpukat.

Di tahun 2013, KIBAS juga memperkenalkan kreasi motif batik baru seperti motif batik ’Teyeng’ yang menggunakan inovasi teknik membuat pola dan pewarnaan batik menggunakan besi berkarat, dan juga teknik ’meratus’, yaitu memberikan aroma wangi khas pada kain batik yang sudah dikenal sejak dulu. (wh)