Batik Ikat Jumput Murtiningsih Garap Pasar Antarpulau

Batik Ikat Jumput Murtiningsih Garap Pasar Antarpulau

Murtiningsih memamerkan produk unggalannya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Berawal dari kegiatan kampung, kemudian melahirkan usaha. Begitulah yang dilakukan Murtiningsih, owner Karya Ikat Jumput. Perempuan pelaku usaha ini kini mampu mendulang jutaan rupiah dari bisnis yang dirintisnya.

“Karena banyak ibu-ibu belum sejahtera, kami sepakat untuk membuat usaha. Yang kamu suka buka usaha jahitan,” ungkap dia, ditemui enciety.co di rumahya, Jalan Pandegiling 1/44i, Surabaya, Kamis (9/1/2020).

Murti lalu menceritakan, tahun 2004, mengawali usaha bersama beberapa teman. Produk yang dibuat berupa sarung bantal, sprei, dan baju seragam. Modalnya dari pinjaman Rp 300 ribu.

Lamat-lamat, usaha Murti dkk mulai menujukkan hasil. Satu pesanan datang, disusul pesanan berikutnya. Promosinya dari mulut ke mulut. Mereka melayani dengan sepenuh hati.

Pelanggan mereka bertambah, bukan hanya dari Surabaya, tapi juga dari luar kota. “Kami menerima pesanan pelanggan dari Pulau Rote Nusa Tenggara Timur. Waktu itu kami kirim seragam. Alhamdulillah, saat ini total aset sudah sekitar Rp 75 juta. Itu belum termasuk nilai aset produksi,” cetus perempuan kelahiran Ngawi, 27 Desember 1968, ini.

Menurut Murti, banyak tantangan dihadapi saat merintis usaha. Di antaranya membuat produk dan memasarkan. Murti juga beberapa kali jatuh bangun mengembangkan usaha. Dia juga pernah ditipu rekan kerja.

“Kalau masalah produk, saya pernah tidak laku. Lalu, saya juga pernah ditipu rekan kerja. Nilainya kurang lebih Rp 15 juta. Tapi bagi saya yang namanya usaha itu ada pasang surut,” katanya.

“Kalau produk nggak laku, coba bikin produk baru dengan inovasi baru. Kalau ditipu, jangan patah semangat. Anggap saja itu ujian Tuhan. Saya yakin suatu saat pasti diganti lebih baik dan lebih banyak oleh Tuhan,” imbuh dia.

Murti mengakui jika usaha tak bisa sendiri. Mereka harus bekerja sama dengan banyak orang. Karena itu, tahun 2010, Murti mengamini ketika diajak seorang kawan bergabung di Pahlawan Ekonomi. Gerakan pemberdayaan perempuan yang diinisiasi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

“Anggotanya masih sedikit waktu itu. Tidak ribuan seperti sekarang. Yang ikut pelatihan juga hanya beberapa orang. Saya sangat bersyukur bisa bergaung di Pahlawan Ekonomi,” ujar dia.

Tularkan Ilmu

Batik Ikat Jumput Murtiningsih Garap Pasar Antarpulau
foto:arya wiraraja/enciety.co

Setelah bergabung bersama Pahlawan Ekonomi Surabaya, usaha Murtiningsih makin berkembang. Pada 2012, dia mulai mengembangkan produk baru. Yakni, batik ikat jumput dan tie-dye. Menurut dia, saat itu tidak banyak pelaku usaha yang mengembangkan produk tersebut.

“Produk batik ini beda dengan batik tulis yang harus memiliki keahlian membatik atau mencanting. Semua orang bisa membuatnya. Tapi seperti halnya handicraft, beda tangan pasti beda produk. Artinya, meski prosesnya sama, tapi tiap produk punya ciri khas masing-masing. Itu yang jadi pertimbangan saya,” jelas istri Mukiran (60) ini.

Murti mengaku, saat ini pemasaran produknya telah sampai ke Ngawi, Parangkalaya, Jakarta, dan Nusa Tenggara Timur . “Berkat Pahlawan Ekonomi yang memberi saya kemasan baru lewat program Tatarupa (repackaging and rebranding, red), saya dapat memasarkan produk ke pasar lebih tinggi ,’ tegas Juara 3 Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda Award 2019 Kategori Creative Industry ini.

Produk Murti dibandrol Rp 100-Rp 700 ribu. Dia dapat mengumpulkan omzet Rp 15 juta per bulan. Untuk masalah produksi dia dibantu sembilan orang yang direkrut dari sekitar tempat tinggalnya.

Sedangkan untuk pemasaran, dia menitipkan produk ke Sentra-Sentra UKM Milik Pemerinta Kota Surabaya. Pemasaran online juga dilakukan di. Facebook, Instagram, dan WhatsApp.

“Pasar yang kita sasar kelas menengah atas. Saya berpikir, bikin batik ini kan prosesnya lama. Sayang jika kain batik ini tidak dibuat menjadi produk premium,” urai Murti.

Murti kini juga berhasrat mengembangkan usaha dan menularkan ilmu. Dia sangat ingin sekali membuat berbagai tutorial bisnis.

“Tahun ini saya rutin ngisi forum bisnis di salah satu LSM di Surabaya Utara. Saya juga punya jam ngajar di Universitas Ciputra Surabaya untuk Mahasiswa Semester 3. Alhamdulillah, saya pernah dapat bayaran Rp 6 juta sekali ngomong di salah satu universitas ternama di Surabaya,” tegas Murti, lalu tersenyum. (wh)

Berikan komentar disini