Batik Belum Siap Hadapi Pasar Bebas ASEAN

Batik Belum Siap Hadapi Pasar bebas ASEAN
Dimas Pratama, peneliti Enciety Business Consult

Pasar bebas ASEAN semakin dekat. Kesiapan Indonesia agaknya belum maksimal. Memang benar sektor industri besar dan sedang (IBS) meningkat. Namun salah satu sub sektor IBS yang digadang-gadang mampu meraup keuntungan besar, tekstil, dan produk tekstil (TPT), melemah tahun lalu.

Berdasarkan data yang dikumpulkan enciety Desk Research (eDR), sepanjang 2014, IBS tumbuh 4,74 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan industri tekstil mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) 5,56 persen. Untungnya, industri garmen (pakaian jadi) bisa bertahan dengan pertumbuhan kurang dari 2 persen. Namun apabila dirinci, depresiasi tidak berlaku di setiap sentra industri.

Mengutip dari dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025 (MP3EI), sentra-sentra industri TPT terpusat di Jawa. Pulau terpadat di Indonesia ini menopang 94 persen TPT dalam negeri. Mulai dari lini hulu, industri pengolahan kapas menjadi serat, yang terpusat di Jawa Barat dan Banten. Hingga Lini hilir yang tersebar di Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Jawa Barat merupakan yang paling utama kontribusinya terhadap TPT Indonesia, diperkirakan sekitar 50-60 persen.

Dari beberapa kawasan utama tersebut, penurunan produksi terjadi di Jawa Tengah. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah menyebutkan produksi tekstil turun hampir 12 persen, sedangkan garmen melemah lima persenan.

Penurunan di Jawa Tengah bukan hanya sekadar data. Sebagai lumbung batik Indonesia, pelaku industri ini sepakat bahwa penyebab utamanya adalah serangan tekstil impor bermotif batik asal Cina.

Perajin batik tulis dan cetak di Jawa Tengah merasakan kerugian hingga 50 persen akibat komoditas asing ini (Bisnis Indonesia, 15/01/2015). Sudah jelas, harga produk China sangat kompetitif, bahkan bisa dibilang mematikan pasar pelaku lokal. Dan sedihnya, produk tersebut cukup diminati.

Peneliti senior enciety Business Consult (eBC) Fajar Haribowo menjawab, hanya penghargaan kepada batik yang dapat menyelamatkan komoditas ini. Sosialisasi tentang batik harus intensif dilakukan. Sebagai upaya membangun kesadaran: batik bukanlah sekadar komoditi industri, batik adalah komoditi seni bernilai tinggi, warisan budaya Indonesia yang tidak layak dipatenkan pemain asing. (wh)