Baru 43 Persen Perusahaan Indonesia Pakai Fasilitas FTA

Baru 43 Persen Perusahaan Indonesia Pakai Fasilitas FTA

Akses perdagangan bebas yang terbuka bagi para pelaku usaha di Indonesia ternyata kurang mendapat perhatian. Penerapan perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) tak sepenuhnya digunakan oleh perusahaan-perusahaan eksportir dalam negeri.

Hal itu terlihat dari hasil survei yang dipaparkan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) saat Seminar Publik mengenai Dampak Free Trade Agreement (FTA) di Indonesia, yang diadakan di aula Notonegoro, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Kamis (20/3/2014). “Hasilnya, baru 43 persen perusahaan tersebut memakai fasilitas FTA,” ujar Kepala Departemen Ekonomi CSIS Yose Rizal Damuri.

Penelitian yang dilakukan oleh institusi independen yang konsen terhadap persoalan politik, ekonomi dan keamanan ini melibatkan perusahaan yang bergerak di industri manufaktur besar di 22 sektor. Sebanyak 300 industri berada di wilayah Jakarta dan Bogor sedangkan 150 industri di wilayah Jatim. Penelitian tersebut dilakukan selama 4 bulan.

Yose mengatakan, survei yang dilakukan CSIS meliputi empat aspek. Pertama tentang pengetahuan dan kesadaran pengusaha untuk menggunakan fasilitas perjanjian perdagangan bebas. Kedua tentang dampak FTA terhadap kinerja ekspor, ketiga dampak FTA terhadap ketersediaan bahan baku penolong dan keempat peningkatan terhadap penguasaan pasar atau market share.

“Dari survei yang kami lakukan, ternyata kesadaran pengusaha untuk menggunakan fasilitas FTA masih rendah. Hanya 43 persen dari responden yang menyatakan telah menggunakan fasilitas tersebut,” ujar Yose. Lebih rinci, 52 persennya merupakan pelaku industri besar.

Minimnya kesadaran pengusaha itu disebabkan kurangnya informasi. Para pengusaha tersebut juga merasakan kesulitan dalam memenuhi persyaratan untuk bisa mendapatkan fasilitas FTA. Salah satu persyaratannya ialah 40 persen bahan baku produk yang dihasilkan harus dari dalam negeri. “Ini yang harus dipecahkan oleh pemerintah. Bagaimana kemudian pengusaha bisa menggunakannya tanpa terbebani dengan biaya yang besar,” ujarnya.

Sementara itu, FTA juga membawa efek positif bagi eksportir. Berdasarkan hasil survei kualitatif mengenai perspektif pebisnis, FTA sangat bermanfaat. “Mereka merasa lebih mudah menjual produk ke luar negeri. Walaupun mereka mengakui, keuntungan yang didapatkan sama saja karena harga tidak berbeda, baik yang menggunakan fasilitas FTA ataupun tidak,” imbuh Yose.

Sayangnya, sebagian besar importir yang menggunakan fasilitas FTA tersebut bukan atas inisiatif pribadi. “Mereka pakai fasilitas FTA karena diminta oleh pembeli luar negeri. Importir kita cenderung pasif,” cetusnya.(wh)