Bapak Statistika Prediksi Ekonomi Mulai Pulih pada Juni-Juli

Bapak Statistika Prediksi Ekonomi Mulai Pulih pada Juni-Juli

Ari Indarwanto dan Kresnayana Yahya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Kondisi ekspor dan impor Jatim saat ini mengalami tantangan sangat berat. Ini karena pandemi Covid 19 yang melanda seluruh wilayah di Jatim.  Tercatat, per April 2020, nilai ekspor Jatim turun sekitar 30,87 persen atau mencapai USD 1,37 miliar. Sementara itu, impor kita mengalami kenaikan hingga 1,15 persen atau mencapai USD 1,81 miliar USD. Pada April 2020, banyak negara di dunia yang telah lebih terbuka dan melonggarkan kebijakann terkait hal tersebut.

“Angka-angka ini menggambarkan, jika dunia industri Jatim sangat terpengaruh adanya penurunan ekspor ini. Contohnya, saya dapat informasi dari salah satu perusahaan olahan makanan yang bilang jika produk ekspornya terhenti. Negara-negara seperti Eropa dan Amerika masih menjadi pasar potensial itu sedang mengalami penurunan daya beli,” ujar Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (22/5/2020).

Acara talkshow yang berlangsung puluhan itu, juga menghadirkan Kepala Biro Industri Hasil Laut Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Jatim Ari Indarwanto.

Menurut Kresnayana, menyusul ditutupnya pintu masuk Eropa dan Amerika, China saat ini menjadi pasar potensial ekspor Jatim. Bahan-bahan alam masih menjadi komoditas andalan ekspor di Jatim. Seperti bahan makanan dan lain sebagainya.

“Contohnya, bahan makanan seperti buah-buahan. Satu di antaranya, buah manggis dan daun kelor. Kedua komoditas ini saat ini banyak diminati di China,” ujar pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.

Pada Juni dan Juli ini, imbuh dia, diperkirakan perekonomian dunia berangsur pulih. Lantas harapannya, Eropa dan Amerika bakal membuka pintu masuk perdagangan. “Ini menjadi momentum yang menguntungkan bagi kita,” ucapnya.

Kresnayana mengatakan, Indonesia punya potensi untuk seluruh produk kayu, karet, tekstil, hasil perkebunan organik dan ada permintaan komoditas jamur yang sangat tinggi.

“Nah, naiknya permintaan jamur ini sangat menarik. Saat ini banyak negara di seluruh dunia sedang mengurangi konsumsi daging. Untuk mengganti komponen tersebut, maka ada lonjakan permintaan untuk komoditas jamur dan hasil laut,” tegas Kresnayana.

Kresnayana menegaskan, fenomena ini sebenarnya dapat dimanfaatkan para pelaku usaha kecil menengah (UKM) Indonesia. Sebab, produk-produk olahan dari komoditas jamur dan hasil laut ini menjadi komoditas ekspor dengan potensi bisnis yang tinggi.

“Pesan bagi pelaku UKM, ini adalah kesempatan kita untuk melebarkan sayap ke bidang ekspor. Mulai dari yang kecil dulu. Penuhi permintaan pasar sedikit demi sedikit. Jika dimulai dari sekarang, maka lama-lama produk kita akan dikenal. Jika telah demikian, kita bisa menggarap permintaan pasar yang lebih besar lagi,” pungkas Kresnayana. (wh)