Banyuwangi Raih Penghargaan Kebudayaan 2015

Banyuwangi Raih Penghargaan Kebudayaan 2015
foto: antaranews.com

Kabupaten Banyuwangi menerima Penghargaan Kebudayaan 2015 untuk kategori pemerintah daerah yang diserahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan di Jakarta, Selasa (22/9/2015) malam.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam keterangan tertulis di Banyuwangi, Rabu (23/9/2015), mengatakan apresiasi dari pemerintah pusat tersebut menjadi penyemangat bagi daerahnya untuk terus melesatrikan kebudayaan daerah.

“Masyarakat Banyuwangi berterima kasih atas penghargaan yang diberikan oleh Mendikbud ini,” katanya.

Anas mengatakan budaya menjadi salah satu spirit yang membangkitkan semangat dalam membangun Banyuwangi. Seni dan budaya telah menjadi spirit yang menyatu dalam masyarakat dan program-program pembangunan pemerintah daerah.

“Kami hanya berupaya agar seni dan budaya asli ini bisa dikenal lebih luas lagi di luar daerah dan bisa menjadi bagian dari khazanah kekayaan budaya Indonesia yang membanggakan,” ujarnya.

Untuk meneguhkan eksistensi budaya daerah, lanjutnya, berbagai momen pun dimanfaatkan. Misalnya, mewajibkan Tarian Gandrung sebagai tarian pembuka di berbagai acara, baik yang digelar oleh instansi pemerintah maupun swasta.

“Melalui cara ini tarian Gandrung pun semakin dikenal dan akhirnya ditetapkan sebagai ‘Warisan Budaya Takbenda’ oleh Kemendikbud pada 2013,” ujar Anas.

Selain itu, budaya Banyuwangi juga diangkat dan ditampilkan secara konsisten setiap tahun dalam even promosi wisata Banyuwangi Festival. Budaya daerah tersebut bahkan ditampilkan secara berbeda dan istimewa.

Seperti Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) yang menampilkan karnaval kostum spektakuler dengan tema seni dan budaya asli Bumi Blambangan dan Festival Gandrung Sewu yang menampilkan tari Gandrung dalam suguhan kolosal.

Selain itu juga ada tradisi Kebo-keboan, Tari Seblang, atau Festival Tumpeng Sewu, yang semuanya disuguhkan dengan istimewa dan disiarkan ke seluruh penjuru nusantara.

“Sejumlah ikon Banyuwangi juga dibangun dengan sentuhan arsitektur yang mengadopsi kebudayaan lokal, seperti terminal baru bandara, stadion, gedung pendidikan, rumah sakit, dan lansekap destinasi wisata. Ini adalah bentuk kebanggaan dan kecintaan kami kepada Banyuwangi. Saat daerah lain membawa tema global ke kegiatan lokal mereka, kami berikhtiar memperkenalkan budaya lokal kami ke masyarakat global,” tutur Anas.

Kepala Bagian Humas Banyuwangi Djuang Pribadi menambahkan, Penghargaan Budaya 2015 dari Kemendikbud diberikan kepada 56 orang dan lembaga yang telah mengembangakan dan melestarikan kebudayaan Indonesia.

“Banyuwangi sendiri mendapatkan penghargaan kategori pemerintah daerah,” ujar Djuang.

Sejumlah tokoh nasional terlibat dalam penilaian ini. Khusus tim penilai pemerintah daerah antara lain ada akademisi Komaruddin Hidayat, Meutia F Hatta, pakar otonomi daerah Ryass Rasyid, konsultan aristektur Adhi Moersid, pengamat kebudayaan Suroso MP.

Ia menjelaskan bahwa penghargaan ini diberikan lantaran pemangku kepentingan di Banyuwangi dianggap memiliki kemauan politik dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya bangsa yang memiliki arti penting sebagai acuan untuk menyikapi perubahan zaman.

“Eksistensi kebudayaan di suatu daerah sangat bergantung pada peran serta dan kepedulian masyarakatnya. Apa yang sudah dilakukan Banyuwangi contohnya, kami anggap sebagai penciptaan iklim kondusif bagi proses kreatif sekaligus upaya pelestarian nilai-nilai budaya bangsa,” kata Mendikbud Anies Baswedan sebagaimana dikutip Djuang Pribadi. (ant/wh)