Bantuan Kecelakaan Jasa Marga Jatim Turun 17 Persen

Bantuan Kecelakaan Jasa Marga Jatim Turun 17 Persen
Armanda, Kepala Jasa Raharja Wilayah Jatim.

Santunan biaya kecelakaan dari PT Jasa Raharja Wilayah Jatim mengalami penurunan. Hal ini tak lepas dari tingginya kesadaran dan keselamatan di jalan raya yang mampu menekan angka kecelakaan.

Kepala Jasa Raharja Wilayah Jatim Armanda menegaskan, hingga kuartal pertama atau periode Januari-Maret, bantuan kecelakaan turun 17 persen dari Rp 63,9 miliar menjadi Rp 53,3 miliar untuk wilayah Jatim saja.

“Kita gencar melalkukan sosialisasi mulai dari tingkat provinsi hingga tingkat kecamatan, untuk menekan angka kecelakaan,” ujarnya, Senin (5/5/2014).

Hingga kuartal pertama tahun ini donasi untuk korban meninggal cukup tinggi yakni mencapai Rp 30,6 miliar, disusul perawatan Rp 22,03 miliar, cacat Rp 593 juta, dan penguburan mencapai Rp 54 juta.

Armanda mengakui, santunan yang diberikan kepada korban kecelakaan baik darat, laut, maupun udara mengalami penurunan sejak tahun 2011. Hanya saja persentase penurunan itu bervariasi dan setiap tahunnya tidak sama. Secara rata-rata, angka penurunan itu mencapai antara 10-15 persen.

Gencarnya sosliasi ini juga dibarengi kerjasama dengan 46 Rumah Sakit (RS) dari 250 RS se-Jatim. Mekanisme bantuan ini hanya diberikan kepada korban kecelakaan maksimal Rp 10 juta. 

“Kecuali kecelakaan yang bersifat kecelakaan tunggal, tidak bisa kami berikan santunan,” tegasnya.

Selama ini kontribusi sumber pendanaan Jasa Raharja berasal dari angkutan umum, baik darat laut, maupun udara yang besarannya bervariasi. Untuk tiap perusahaan otobus (PO) dan angkutan antar kabupaten/kota dipungut Rp 60 per tiket perpenumpang, selama satu bulan.

“Kita tidak bisa menghitung traffic, karena bisa saja dalam satu hari hanya sekali atau dua kali, itu perumpaan. Jadi setiap tiket yang terjual, itulah yang kita kutip setiap bulannya,” tegasnya. Sedangkan untuk angkutan antar kabupaten dan kota dikutip berdasarkan load factor.

Sementara untuk angkutan pesawat udara metodenya sama dengan PO, tetapi besarannya Rp 5.000 setiap penumpangnya. Untuk penyeberangan pertiketnya Rp 200 dan kapal laut antarprovinsi sebesar Rp 2.000.

Sementara untuk kendaraan swasta pengutipan melalui STNK Rp35.000 per tahun untuk motor dan mobil Rp 143.000 per tahunnya. (wh)