Bantu Petani Hadapi MEA, Puspa Agro Buka Divisi Trading House

Bantu Petani Hadapi MEA, Puspa Agro Buka Divisi Trading House
(kanan) Dirut Puspa Agro, Abdullah Muchibudin didampingi Suhatoko (Humas Puspa Agro) menunjukkan produk pertanian Jawa Timur yang masuk ritel internasional.

Prospek bisnis trading produk pertanian dan peternakan yang dilakukan Puspa Agro mulai membuahkan hasil. Sejak beroperasi pada Februari 2014, Puspa Agro mampu merangkul petani dan peternak untuk mendistribusikan produknya hingga end user.  Selain itu, menghadapi kerja sama perdagangan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Puspa Agro membuka divisi trading house.

Direktur PT Puspa Agro Abdullah Muchibudin mengatakan, semangat dibukanya divisi baru ini untuk memangkas mahalnya distribusi produk pertanian dan peternakan. Sebab, petani dan peternak harus menjual produknya ke tengkulak yang memiliki mata rantai panjang sebelum ke end user.

“Semangat kami untuk memberi nilai tambah kepada petani, sekaligus menekan mahalnya produk pertanian dan peternakan,” kata Udin, sapaannya, Kamis (23/10/2014). Bahkan pihak Puspa Agro mampu membeli produk pertanian dan peternakan lebih mahal dibanding tengkulak.

Selain itu, pihak Puspa Agro mampu membayar tunai kepada petani yang tidak pernah didapatkan jika menjual melalui tengkulak. Sehingga nilai jual produk pertanian dan peternakan memiliki nilai ekonomis mencapai 2,5 persen dan produknya bisa bersaing dengan produk impor.

Udin mencontohkan semangka dijual petani ke tengkulak hanya Rp2300/ kg, Puspa Agro berani membeli Rp 4.500 per kg. “Artinya petani mendapat nilai tambah 29 persen, dan kami menjual ke end user senilai Rp 5.304 per kg atau kami meraup untung 2,5 persen,” jelasnya.

Divisi trading house tersebut juga telah menjalin kerjasama dengan sejumlah perusahaan seperti Carefour, Indocater, Invivo, dan Indokom. Dengan Carefour, Puspa Agro telah menyuplai sayur, buah, telur, dan ayam mencapai 168 ton dari periode Februari-Agustus.

Sedangkan memasok ikan laut dan tambak untuk Indocater (peusahaan katering) sebanyak 14,3 ton atau setara dengan Rp 1,8 miliar pada September-Oktober. Puspa Agro juga memasok semangka, melon, dan jeruk masing-masing 4 ton pada periode yang sama.

Ke depannya, Puspa Agro sudah menjalin kerjasama dengan PT Invivo untuk memasok produk jagung dari gabungan kelompok tani (gapoktan) Gresik sebesar 600-800 ton selama tiga bulan. Demikian juga dengan PT Indokom, Puspa Agro memasok kopi dari gapoktan Jember sebanyak 364 ton atau setara dengan Rp 7 miliar.

Puspa Agro tidak kesulitan untuk mendapatkan produk hortikultura di Jatim. Sepenuhnya kita ambil dari Jatim, dan meski musim kemarau, pasokannya tidak menurun. Tantangan lain adalah godaan dari tengkulak yang mata rantainya yang sedikit terpangkas,” tutup Udin. (wh)