Bantu Penyembuhan Pasien TB MDR dengan Bikin Handicraft

Bantu Penyembuhan Pasien TB MDR dengan Bikin Handicraft

Apsari Listyowati memaerkan produk handicraft buatannya.foto/dok pribadi

Tepat di Hari Perawat Nasional 17 Maret, saya harus angkat topi terhadap kiprah perempuan yang satu ini. Namanya, Apsari Listyowati. Perawat yang  bertugas di Puskesmas Tambakrejo, Surabaya. Ibu dua anak ini, selain sebagai tenaga medis, juga dikenal sebagai perajin handicraft.

Lewat ketrampilannya, Apsari berikhtiar membantu pasien penderita Tuberkulosis Multi Drug Resistance (TB MDR) agar tetap kuat dan optimistis segera sembuh. Caranya pun cukup unik. Yakni dengan mengajak mereka belajar membuat kerajinan tangan.

Ihwal upaya itu dilatarbelakangi oleh beban berat yang dirasakan pasien TB MDR. Karena mereka harus minum obat dalam jumlah tertentu setiap harinya. Dari Senin hingga Sabtu berobat di puskesmas. Sedangkan pada hari Minggu atau Hari Besar, mereka menjalani pengobatan di RSUD dr Soetomo.

Bagi orang awan, TB MDR biasa diartikan sebagai penderita TBC yang kebal terhadap obat TBC biasa. Di mana, pengobatan TBC biasa butuh waktu enam bulan. Penderita TB MDR ini harus menjalani pengobatan kurang lebih dua tahun. Pengobatan diberikan melalui injeksi kurang lebih enam bulan setiap hari. Obat oral minimal 15 tablet. Disesuaikan dengan berat badan. Pengobatan pasien TB MDR ini harus dilakukan di rumah sakit atau puskesmas yang ditunjuk.

Menurut spesialis paru, Erlina Burhan, seperti dikutip di laman hellosehat.com, penyebab tuberkulosis MDR yang pertama adalah penggunaan obat TBC yang kurang memadai, baik oleh tim medis maupun pasien. Dokter atau petugas kesehatan tidak dapat memberikan panduan, informasi dosis dan waktu lama pengobatan secara baik kepada pasien.

Erlina juga mengungkapkan, dalam pengobatan TBC lini pertama, pasien harus menghabiskan obat TBC sesuai dosis dan jadwal yang ditentukan. Jika lalai atau kurang disiplin minum obat sesuai aturan, pasien lebih berisiko mengalami efek resistensi (kebal) terhadap obat.

Di samping itu, kegagalan pengobatan TBC juga bisa terjadi lantaran pasien sulit memperoleh obat-obatan. Pasalnya, obat anti-TBC tidak selalu tersedia di seluruh daerah di Indonesia.

Kelalaian pengobatan sebenarnya adalah faktor eksternal yang menyebabkan bakteri penyebab TBC, yaitu Mycobacterium Buberculosis (MTB) jadi kebal terhadap obat TBC.

Ilustrasi foto: medicalnewstoday 

Ada pula faktor internal berupa sifat bakteri itu sendiri. Beberapa bakteri MTB bisa memiliki sifat genetik (genotipe) yang memang resisten terhadap antibiotik tertentu. Artinya, resistensi antibiotik juga bisa menjadi sifat alamiah atau bawaan bakteri tuberkulosis.

Peluang terjadinya resistansi bakteri juga akan meningkat apabila jumlah MTB di dalam tubuh sangat banyak. Artinya, semakin banyak bakteri yang resisten terhadap jenis antibiotik yang berbeda. Inilah sebabnya, durasi pengobatan TB MDR bisa berlangsung lebih panjang dari yang seharusnya.

Pengobatan TB MDR memberikan efek samping luar biasa. Setiap minum obat, penderita dipastikan sering mual. Bahkan tak sedikit yang muntah-muntah. “Penderita juga bakal sering meludah, pusing, badan gemetar, lemas, nyeri di sekujur tubuh,” ujar Apsari.

Tak hanya itu, karena setiap hari harus disuntik, pantat penderita TB MDR menjadi keras dan nyeri. Mereka pun merasa tak nyaman untuk duduk maupun tidur.

Lantaran efek samping yang berat saat minum obat dan suntik tersebut, Apsari kemudian mencari solusi untuk menyiasatinya. Bagaimana cara mengalihkan perhatian agar pasien TB MDR tak kelewat terbebani kalau minum obat. Mereka juga bisa lebih rileks menjalani aktivitasnya sehari-hari.

Bantu Penyembuhan Pasien TB MDR dengan Bikin Handicraft
Pelayanan pasien di Puskesmas Tambakrejo.foto:dok/pribadi

 

Lebih Kooperatif

Suatu ketika, Apsari Listyowati membawa perlengkapan untuk membuat handicraft. Berikut bahan-bahan yang dimiliki ke puskesmas. Di antaranya mutiara sintetis dalam packing plastik, potongan kain flanel, gunting, obeng, kawat, lem tembak, senar, dakron, dan sebagainya.

Iseng-iseng, Apsari mengajak pasien TB MDR untuk ikut membuat kerajinan tangan. Awalnya, mereka mengerjakan agak kaku. Maklum, baru pertama kali. Namun, lama-kelamaan mereka mulai terbiasa. Hingga benar menyukainya. Tiga, empat kali belajar, tangan-tangan pesien TB MDR tersebut mulai terampil.

Apsari sengaja mengajari mereka membuat handicraft setelah minum obat. Karena dia ingin penderita TB MDR punya kesibukan membuat kerajinan tangan dan mencoba melupakan efek sampingnya. “Istilahnya nylimurno (mengalihkan perhatian) pasien. Biar fokus pada aktivitas yang produktif,” turtur dia

Kata dia, dengan diselingi belajar membuat handicraft setelah minum obat, ternyata dapat mengurangi keluhan mual dan muntah yang dialami pasien TB MDR. Lantaran keluhan efek sampingnya berkurang, otomatis pasien TB MDR lebih cepat dalam meminum obat. Tidak seperti sebelumnya, di mana untuk minum satu obat harus menunggu beberapa lama sebelum minum obat selanjutnya.

“Bisa berjam-jam untuk menghabiskan obat yang wajib diminum sehari. Bahkan, ada pasien setelah minum obat memilih tidur hingga minum lagi,” ungkap almunus Akademi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surabaya, itu.

Selain itu, kesibukan bikin handicraft juga mengurangi stres pada pasien TB MDR. Mereka jauh lebih kooperatif. Bisa diajak ngobrol lebih akrab dan santai dan bercanda.

Apsari sendiri belajar handicraft secara otodidak. Dia sempat mengikuti beberapa pelatihan yang diadakan Pahlawan Ekonomi Surabaya, program pemberdayaan ekonomi keluarga yang diinisiasi Tri Rismaharini semasa menjabat wali kota Surabaya. Tri Rismaharini kini menjabat Menteri Sosial. Pelatihannya digelar setiap Sabtu dan Minggu di Kaza City Mall.

Apsari juga banyak menggali ilmu dan mengulik teknik-teknik membuat handicraft melalui buku-buku how to. Dia juga sering kali melihat pelatihan online di media sosial.

Bantu Penyembuhan Pasien TB MDR dengan Bikin Handicraft
Produk-produk handicraft yang dibuat Apsari.foto:humas pemkot surabaya

 

Tambah Pendapatan 

Pagi itu, matahari mulai meninggi. Setelah beberapa hari Surabaya diguyur hujan deras. Ny SW yang mengendarai sepeda ontel, mendatangi Puskesmas Tambakrejo, Surabaya. Perempuan yang tinggal di kawasan Pogot di Surabaya Timur tersebut, sedang menjalani terapi pengobatan TB MBR.

Ny SW adalah salah satu pasien TB MDR yang dilatih Apsari Listyowati membuat handicraft. Ny SW menjalani pengobatan hampir setahun. Dalam kesehariannya, dia adalah ibu rumah tangga. Suaminya bekerja menjual mainan dan aksesoris anak-anak di beberapa sekolah di Surabaya. Mereka memiliki tiga anak dan tinggal bersama mertua.

Di sudut ruangan belakang Puskesmas Tambakrejo, Ny SW yang mengenakan masker, terlihat sibuk. Kedua tangannya dengan lincah memotong kain flanel. Kain itu kemudian dibentuk menjadi bros, bando, dan berbagai jenis aksesoris lainnya. Hasil karyanya lantas dikemas dalam plastik.

Selain flanel, Ny SW juga mengerjakan manik-manik yang dibentuk menjadi gelang, kalung, dan bros. Produk kerajinan hasil kreasinya ini dipasarkan melalui suaminya. Bila ada yang laku, Ny SW mengaku sangat bersyukur lantaran mendapat tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Paling tidak, dia bisa mencukupi kebutuhan uang jajan anak-anaknya.

Produk-produk buatan Ny SW juga dibantu dipasarkan Apsari kepada rekan dan teman-temannya. Sebagian lagi dijual online melalui WhatsApp, Facebook, dan Instagram. Bila ada yang laku, dia serahkan semua uangnya kepada Ny SW.

Bagi Apsari, secuil pengetahuan yang telah diajarkan kepada Ny SW sungguh membanggakan. Karena pada ujungnya dia tak banyak mengeluh lagi ketika minum obat. Berikut Ny SW menjual produk handicraft untuk menambah income ekonomi keluarganya. (wh)