Bantu Indonesia, Produksi Massal Obat Pembunuh Nyamuk Demam Berdarah

Bantu Indonesia, Produksi Massal Obat Pembunuh Nyamuk Demam Berdarah
Shimukawa, Manager Peneliti Kyushu Medical Kota Kitayushu, saat menunjukkan cara kerja obat pemberantas jentik nyamuk, di Kantornya. arya wiraraja/enciety.co

Jepang sangat progesif dalam temuan di bidang kesehatan. Salah satunya menciptakan Mosnon, obat pembunuh nyamuk dalam beberapa tahap. Bagimana kerjanya? Berikut laporan Arya Wiraraja, jurnalis enciety.co, yang mengunjungi  Kitakyushu, Jepang, pekan lalu.

Hujan menghajar jalanan Kota Kitakyushu, sore itu. Pandum menunjukkan pukul 13.00 waktu setempat. Bus melaju di jalam tol, mengarah ke Kyushu Medical yang berada di pinggiran daerah Provinsi Fokuoka yang masih merupakan kawasan Kyushu.

Sekitar satu jam saya bersama 29 jurnalis Kota Surabaya melakukan perjalanan, akhirnya sampai di depan gerbang Medical Kyushu. Sambutan dari para staf berpakaian seba putih amat ramah ketika rombongan kami datang. Sejurus kemudian, satu per satu jurnalis diberi handuk. Berikut kertas berisikan data obat pembunuh jentik nyamuk buatan peneliti kesehatan disana.

Shimukawa. Manager Peneliti Kyushu Medical Kitayushu, menerangkan jika obat yang diberi nama Mosnon ini dapat membunuh nyamuk dalam beberapa tahap. “Kami mengembangkan obat ini untuk membunuh nyamuk mulai dari larfa atau jentik,” tuturnya, lantas tersenyum.

Shimukawa lalu menjelaskan tentang obat anti nyamuk tersebut. Kata dia, obat ini berbentuk tablet. Untuk menggunakannya cukup dengan memasukkan satu tablet ke dalam air yang ada jentik-jentik nyamuknya. Kemudian dilarutkan dalam air yang ditempati oleh jentik-jentik atau larfa. Obat ini akan bereaksi dan larut dalam air seperti suplemen.

“Obat tersebut dapat bekerja kurang lebih satu jam. Mosnon dapat bekerja secara maksimal dengan komposisi satu tablet untuk 1 liter,” papar dia.

Shimukawa-obat-nyamuk-db  Shimukawa-obat-nyamuk-db2

Untuk membuat obat ini digunakan bahan dasar berupa micro organisme hidup digabung dengan protein hidup. Obat yang ditemukan sejak tiga tahun lalu itu tidak dapat dipergunakan di Jepang, karena di Negeri Sakura tidak ada larfa jenis nyamuk demam berdarah.

Menurut Shimukawa, obat tersebut sangat cocok dipakai di Indonesia. Apalagi sejak tahun 2000 hingga tahun 2010, penderita demam berdarah di Indonesia naik 7 persen. “Dari data yang kami peroleh, saat ini di Indonesia sangat membutuhkan obat yang kami temukan ini,” paparnya.

Apakah air yang diberi obat tersebut aman jika dikonsumsi manusia? Shimukawa menegaskan jika air tersebut tidak berbahaya. Bahkan air tersebut tidak berbahaya bagi hewan kecil lainnya, seperti, udang dan ikan.

“Kami sudah melakukan penelitian terkait obat ini, dan hasilnya ikan dan udang yang ada dalam aquarium percobaan tidak mati. Hanya jentik-jentik nyamuknya saja yang mati,” ulasnya.

Dia juga memaparkan obat tersebut saat ini telah siap untuk diproduksi massal. “Namun kalau sekarang akan sia-sia karena saat ini warga Jepang belum membutuhkannya,” ungkapnya.

Dia berharap ke depan ada kerjasama antara Pemerintah Kota Surabaya dengan Pemerintah Kota Kitakyushu, dalam hal ini Kyushu Medical.

“Bentuk bantuan kerjasama tersebut berupa bantuan obat kepada Pemerintah Kota Surabaya. Dengan harapan dapat mengurangi angka penderita demam berdarah,” tandasnya.

Setelah menyelesaikan presentasinya, Shimukawa dan segenap staf pegawai Kyushu Medical bergegas membawa kami berkeliling melihat fasilitas penelitian kesehatan di Kyushu Medical. (wh)