Bank Jatim Revisi Pertumbuhan Ekonomi RI 4,7 Persen

Bank Jatim Revisi Pertumbuhan Ekonomi RI 4,7 Persen
foto: blogspot
Bank Dunia merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini turun menjadi 4,7 persen dibandingkan proyeksi awal lembaga keuangan global itu sebesar 5 persen. Melemahnya harga komoditas dan rendahnya investasi menjadi pemicu revisi tersebut. “Sejumlah kondisi kurang mendukung menekan sehingga berpengaruh pada perekonomian,” jelas Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo Chaves, dalam acara World Bank Group, “Indonesia Economic Quarterly” di Jakarta, Rabu, (8/7/2015).
Menurut laporan Bank Dunia, rendahnya harga komoditas dan melemahnya pertumbuhan investasi membuat pertumbuhan ekonomi negara maju terkoreksi. Hal ini berdampak pada ekspor Indonesia sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia turut terkena imbasnya. “Indonesia mengalami pelemahan belanja konsumen dan rendahnya investasi jangka panjang,” kata dia.
Diketahui, ekspor Indonesia baik komoditas maupun produk manufaktur, turun sebesar 13 persen pada Januari-Maret 2015 menyusul melemahnya permintaan dari Tiongkok dan negara tetangga di Asia Tenggara.
Di tengah kondisi tersebut, Rodrigo mengatakan, Indonesia harus mengantisipasi dengan meningkatkan belanja infrastruktur yang berkualitas dengan tetap menjaga defisit fiskal maksimal 3 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Pemerintah Indonesia kata Rodrigo, juga harus memangkas hambatan penyerapan belanja modal yang anggarannya ditargetkan meningkat dua kali lipat. Sementara dari sisi penerimaan, pendapatan pajak ditargetkan meningkat. “Upaya untuk meningkatkan pajak dapat membantu kondisi fiskal Indonesia dalam jangka menengah,” kata dia.
Proyeksi terbaru Bank Dunia soal perekonomian Indonesia lebih pesimis dibandingkan dengan ramalanm Menteri pemerintah dan Bank Indonesia. Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro baru-baru ini mengoreksi target pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun ini, dari 5,7 persen di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015 menjadi 5,2 persen. (bst)