Bank Indonesia Pertahankan BI Rate 7,5 Persen

BI Tahan Suku Bunga Acuan di 7,5 Persen
BI Tahan Suku Bunga Acuan di 7,5 Persen

Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya atau BI rate pada level 7,5 persen. Kebijakan ini diputuskan karena dinilai masih sejalan dengan laju inflasi dan upaya mengendalikan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Adapun deposit dan lending facility ditetapkan masing-masing tetap sebesar 5,50 persen dan 8,0 persen.”Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk mempertahankan BI rate 7,5 persen,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi, Tirta Segara di Jakarta, Selasa (17/1/2015)

Dia menyebutkan, kebijakan itu seiring dengan keyakinan BI bahwa inflasi akan terkendali di kisaran bawah sasaran 4 persen plus minus 1 persen dan CAD di kisaran 3 persen hingga 2,5 persen pada 2015 dan 2016. Bank Indonesia menurut dia, juga akan menjaga stabilitas nilai tukar dan makro ekonomi ditengah ketidakstabilan ekonomi dunia. Untuk itu, akan memperkuat kebijakan makroprudensial dan moneter. Tirta menyebutkan, terjaganya stabilitas makroekonomi Indonesia tidak terlepas dari hasil koordinasi antara BI dan pemerintah. “Ke depan, Bank Indoensia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial serta meningkatkan koordinasi dengan pemerintah,” tuturnya.

Sebelumnya, ekonom senior Fauzi Ichsan mengatakan, dalam upaya menjaga dan meningkatkan volume capital inflow, maka sebuah negara harus memiliki fundamental ekonomi yang kuat. Sehingga, lanjut dia, neraca transaksi berjalan harus memiliki defisit yang rendah atau bahkan surplus. Dia mengatakan, setiap negara yang memiliki defisit transaksi berjalan cukup besar, tentunya tidak bisa mendesain suku bunga ke tingkat yang lebih rendah. “BI Rate yang tinggi diharapkan bisa memicu terciptanya capital inflow,” imbuhnya.

Fauzi mengungkapkan, tidak bisa dipungkiri bahwa upaya untuk menekan CAD harus dibiayai aliran modal asing. “Agar ada arus modal asing yang masuk, maka harus ada insentif berupa suku bunga domestik yang tinggi,” jelasnya. Jika BI rate terlalu rendah, ujar Fauzi, maka minat asing untuk masuk ke pasar Indonesia akan menyurut, sehingga rupiah menjadi terdepresiasi. “Hal-hal ini yang menjadi alasan dalam kebijakan moneter Bank Sentral,” katanya. (bst)