Bank Dunia Tawari Pinjaman USD 12 Miliar

 

Bank Dunia Bikin Alat untuk Lawan Korupsi Negara Berkembang

Bank Dunia menawarkan pinjaman pada pemerintah Indonesia dana sebesar USD 12 miliar. Tawaran ini  disampaikan Direktur World Bank (Bank Dunia) Perwakilan Indonesia Rodrigo A. Chaves usai bertemu dengan  Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK). “Kita jangan lupa beberapa tahun terakhir utang kita itu menurun dan tentu krisis begini kita butuh juga dana-dana yang lebih murah,” jawab JK ketika ditanya tawaran pinjaman dari Bank Dunia tersebut.

Menurutnya, Bank Dunia akan tetap berkomitmen membantu pembiayaan khususnya untuk program pembangunan infrastruktur. Namun, JK tidak mengatakan secara rinci proyek yang dibahas bersama dengan Chaves.

Secara terpisah, Chaves mengatakan sempat menawarkan pinjaman dana mencapai USD12 miliar kepada JK. Dengan tujuan, membantu program pembangunan jangka menengah nasional dalam kurun waktu 4 tahun ke depan. Bahkan, ia mengungkapkan Bank Dunia memberikan bunga rendah, yakni 0,93 persen dengan tenor selama 18 tahun.

“Kami pikir ini kesempatan yang baik untuk terus tumbuh, terus berinvestasi, membantu masyarakat melalui dukungan finansial,” kata Chaves.

Terkait pinjaman luar negeri, sebelum datang tawaran Bank Dunia ini, Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) menyetujui pinjaman yang diajukan Indonesia senilai USD 400 juta atau setara Rp 5,6 triliun.

Selain itu, ADB juga menyiapkan plafon pendanaan untuk Indonesia senilai USD2,2 miliar atau setara Rp30 triliun dengan tingkat bunga 1,2 persen pada tahun 2016.

Padahal, berdasarkan data Bank Indonesia (BI), posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir Mei 2015 tercatat sebesar USD 302,3 miliar atau setara dengan Rp 3.926 triliun jika mengacu kurs Rp13.000 per dolar AS.

Utang tersebut, terdiri dari ULN sektor publik sebesar USD133,5 miliar (44,2 persen dari total ULN) dan ULN sektor swasta USD168,7 miliar (55,8 persen dari total ULN). (bst)