Bangun Taman Mini, Hotel Mercure Tekan Biaya Pendingin Ruangan

Bangun Taman Mini, Hotel Mercure Tekan Biaya Pendingin Ruangan
Hotel Mercure Grand Mirama yang membuat taman di atas lantai agar ruangan di ball room semakin sejuk untuk menekan penggunaan pendingin ruangan.

Gerakan yang diprakarsai Pemerintah Kota Surabaya untuk menjadikan gedung-gedung pencakar langit di Kota Pahlawan ramah lingkungan, mendapatkan apresiasi positif dari pelaku industri perhotelan. Satu di antaranya dari Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya. Hotel legendaris  tersebut merombak total perilakunya untuk mengarah pada konsep bangunan hijau (green building).

Itu bisa dirasakan saat masuk hotel yang berlokasi di Jalan Raya Darmo, Surabaya. Saat menuju ball room hotel berbintang empat itu, kesejukan amat berasa. Tapi, jangan berpikir kalau rasa sejuk yang didapat itu dari pendingin ruangan saja.

“Beberapa tahun terakhir, kebutuhan akan pendingin ruangan sangat besar sekali. Bahkan 60 persen pengeluaran kami itu untuk kebutuhan energi pendingin ruangan,” aku General Manager Mercure Grand Mirama Sugito Adhi kepada enciety.co, Rabu (5/11/2014).

Tidak ingin merugi karena melakukan pemborosan energi dengan tanpa meninggalkan kenyamanan tamu, manajemen Mercure berupaya untuk melakukan terobosan. Caranya dengan membuat taman mini di lantai 3 yang berfungsi untuk membuat rasa sejuk di dalam ruangan di bawahnya.

“Ternyata program itu berhasil. Setidaknya saat ini kami terus bisa menekan jumlah pengeluaran energi untuk pendingin ruangan hingga 12 sampai 15 persen,” bebernya.

Namun, masalahnya tidak berhenti di situ saja. Baru bisa menekan jumlah penggunaan pendingin ruangan, Sugito harus dipaksa memeras otak lantaran adanya kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang mencapai 13 persen per tahun.

“Otomatis pengeluaran juga jadi membengkak lagi,” cetus Rocmad Oktoriyono selaku Product Service Manager Mercure Grand Mirama.

Hal ini membuat mereka dipaksa untuk survive, bagaimana bisa tetap membuat tamu hotel nyaman tanpa menurunkan kualitas pelayanan dan menaikan tarif hotel. Hingga awal 2012 lalu, manajemen Mercure menerapkan lampu hemat energi atau yang biasa disebut sebagai lampu LED.

Rocmad Oktoriyono, Product Service Manager Mercure Grand Mirama.

“Tentunya program ini sangat didukung Accor Group sebagai corporate perusahaan kami. Hasilnya dalam sebulan saja jumlah pengeluaran kami bisa kami tekan hingga 15 persen,” terangnya.

Saat ini selain melakukan saving energy, diakui Rochmad, pihaknya juga menerapkan program 3 R (reduce, reuse, and recycle) dengan maksimal. Mulai dari pemilahan sampah kering dan sampah basah.

Setiap jenis sampah itu dipilah kembali. Misalnya, sampah kering dibagi-bagi atas sampah kering kertas, botol, kaleng, dan sampah kering lainnya. Sedangkan untuk sampah basah, Mercure melakukan upaya mendaur ulang air limbah hotel sesuai standar baku mutu untuk digunakan menyiram taman hotel.

Diceritakan Rochmad, untuk program sampah kering saja, penjualan botol dan kaleng bekas bisa mencapai Rp 400 hingga Rp 700 ribu sebulan. Hasil penjualan tersebut mereka alokasikan untuk kegiatan sosial dengan membiayai 10 anak asuh yang tengah menempuh pendidikan dari SD hingga SMK di Surabaya.

Sedangkan untuk sampah basah seperti limbah air, Rochmad menyebutkan pihaknya saat ini telah menerapkan sistem recycle (sewage treatment plane) yang mengembalikan fungsi air tanpa tercampur dari zat berbahaya.

“Seharusnya air limbah ini sudah bisa digunakan untuk flasher menyiram kloset namun karena harus melakukan pengadaan pipa baru jadi belum bisa kami lakukan. Sementara ini air limbah kami gunakan untuk menyiram tanaman saja,” terangnya.

Selain itu, diceritakan oleh Rochmad limbah-limbah kertas yang tidak terpakai juga didaur ulang kembali menjadi bahan multifungsi di antaranya digunakan untuk membuat memo kepada karyawan.

“Kami juga mengajak perilaku karyawan kami untuk lebih peduli dengan sadar lingkungan. Setiap tahun kami ada Sepeda Award. Jadi kami menerapkan program berangkat dan pulang kantor menggunakan sepeda di akhir pekan. Siapa yang nanti paling rajin akan didapuk menerima penghargaan Sepeda Award. Ternyata antusiasme karyawan kami sangat tinggi,” jelasnya.

Sedangkan untuk fasilitas kamar hotel, Mercure juga mengajak tamunya untuk turut peduli terhadap lingkungan sekitar. Di antaranya dengan mengajak tamu untuk tidak sering mencuci handuk. Karena dengan upaya tersebut sama dengan menanam satu pohon.

Hasilnya, dari rangkaian program green building yang berhasil diterapkan oleh Mercure membuahkan hasil. Meski hotel lama, tapi setidaknya Mercure telah berhasil mengubah perilaku karyawan dan tamunya untuk peduli dengan lingkungan sekitar.

Ini yang membawa Mercure menyabet penghargaan National Green Award dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 2013 lalu. Hotel Mercure berhasil menyisihkan sedikitnya 40 hotel di seluruh Indonesia.

“Kami terus melakukan upaya green building sesuai dengan imbauan pemerintah. Ini sudah saatnya untuk kita menghemat penggunaan energi,” pungkas Sugito. (bersambung/wh)