Bangun Pabrik Karet di Malang, PTPN XII Siapkan Rp 100 M

Bangun Pabrik Karet di Malang, PTPN XII Siapkan Rp 100 M

PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII menyiapkan anggaran sebesar Rp 100 miliar untuk membangun pabrik karet di Malang. Langkah ini sebagai ekspansi bisnis lanjutan  menyusul mulai berproduksinya tanaman karet di Kebun Pancursari Malang.

“Nilai investasi pembangunan pabrik karet tersebut masih dihitung.  Diperkirakan tidak sampai Rp 100 miliar. Pabrik karet ini diperkirakan mulai dibangun tahun 2015 menyusul mulai berproduksinya tanaman karet,” kata Manajer Wilayah III PTPN XII Benny Walayo, Kamis (30/1/2014).

Menurut dia, kapasitas pabrik karet tersebut mencapai 7,5 ton/hari dalam bentuk karet kering. Namun untuk tahun pertama beroperasi, kapasitasnya hanya 250 kg/hari, disesuaikan dengan produksi karet dan mencapai kapasitas penuh produksi pabrik karet ini diperkirakan pada 2020.

Tanaman karet di Kebun Pancursari saat ini mencapai 375 hektare dengan status tanaman belum menghasilkan. Karet baru berproduksi diperkirakan pada 2015-2016. Sedangkan untuk tahun ini akan ditanam lagi karet di lahan seluas 240 hektare. Tahun depan seluas 241 hektare dan sisanya pada 2016 sehingga total luas tanaman karet di kebun tersebut mencapai 1.000 hektare.

Tanaman karet, kata Benny, merupakan tanaman pokok dan penting karena merupakan penghasil utama pendapatan maupun laba di PTPN XII. Tanaman karet di PTPN XII Wilayah III berada di Kebun Tretes, Ngawi, dan Kebun Gunung Gampir, Jember.

Di tahun 2013, produksi karet di dua kebun tersebut mencapai 128.100 ton atau mencapai 101 persen dari target yang dipatok sebesar 125.900 ton. Dengan harga USD 2,8/kg, maka karet merupakan penyumbang utama penerimaan pendapatan labah PTPN XII Wilayah III.

Harga karet sebesar USD 2,8/kg itu, kata dia, bukan merupakan harga terbaik karena harga karet pernah mencapai USD 3/kg. Harga karet sangat dipengaruhi kondisi ekonomi negara-negara maju, seperti Cina dan Amerika Serikat.

Jika kondisi ekonomi di dua negara tersebut tumbuh tinggi, maka permintaan akan karet alam akan meningkat karena untuk memenuhi kebutuhan indusri otomatif berkembang pesat.

Manager Kebun Pancursari, Budi Karyono mengatakan kebun tersebut cocok untuk ditanami karet karena pertimbangan faktor ekonomi, juga faktor pelestarian lingkungan, dan sosialnya yang tinggi. (ram)