Bangun Ketahanan Indonesia 2045 via Kolaborasi Penelitian Diaspora

Bangun Ketahanan Indonesia 2045 via Kolaborasi Penelitian Diaspora

Para Peserta dan Pembicara ISIC 19th.foto:ist

Indonesian Scholars International Convention (ISIC) 2019 mengusung tema utama “Embracing Indonesia Resilience 2045: A triple-helix approach of economic, social and infrastructure developments from Indonesia-UK perspective”.

ISIC sendiri merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Inggris (PPI UK). ISIC menjadi kesempatan bagi akademisi, kalangan praktisi dan profesional Indonesia di  kancah internasional untuk berbagi ide dan membangun kolaborasi.

Tahun ini, 19th ISIC diselenggarakan pada 22-23 Juni 2019 di University of Nottingham. Acara dibuka Duta Besar Indonesia untuk Britania Raya dan Irlandia Dr Rizal Sukma dan Vice Chancellor University of Nottingham Prof Shearer West.

Prof. Shearer West menekankan bahwa kerjasama University of Nottingham dengan 19th ISIC dari PPI UK merupakan salah satu bentuk dukungan dan kerja sama antara Inggris dan Indonesia dalam membangun resiliensi Indonesia 2045 melalui pendekatan triple-helix.

“Sebagai student-led-activity, kepanitiaan ISIC beranggotakan para pelajar dan peneliti dari berbagai universitas se-Inggris Raya,” katanya

Lury Sofyan, ketua Panitia dari 19th ISIC, menjelaskan 19th ISIC merupakan kesempatan menyongsong momentum Indonesia emas. Sehingga seluruh komponen bangsa terutama pemerintah, akademisi dan industri perlu meningkatkan kolaborasi untuk mendorong inovasi dan kerja nyata bagi Indonesia.

“Pada 19th ISIC, lebih dari 100 peserta dari beberapa universitas di Indonesia dan Inggris menghadiri beragam sesi selama dua hari. 27 pembicara yang berasal dari beragam latar belakang dan bidang keahlian mengisi dua sesi plenary dan 12 sesi parallel,” papar dia.

Komite tim ilmiah yang diketuai Wahyudin P. Syam melalui peer-review telah memilih 76 tulisan ilmiah terbaik dari 235 jumlah total yang diterima tim panitia Call for Paper. Dari 18 tulisan terbaik, ada delapan yang dipresentasikan dan jumlah peserta poster presentation mencapai 40.

Angga Fauzan, koordinator tim Eksternal, menyampaikan kalau antusiasme peserta ISIC tahun ini sangat tinggi. Pendaftar general participant dan submission paper meningkat tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Panitia menerima 235 paper dari delapan negara.

“225 paper berasal dari lembaga universitas dan sepuluh lainnya berasal dari industri perusahaan, institusi  pemerintahan maupun lembaga riset. Tidak hanya peserta Call for Paper yang menunjukkan animo tinggi, panitia sempat membuat skema waiting list untuk pihak yang mendaftar sebagai general participants,” jelasnya.

Kegiatan pada 22 Juni dimulai dengan sesi plenary oleh beberapa pembicara kunci mengenai berbagai perspektif landasan dari tema utama, seperti Prof. Dr Ali Ghufron Mukti yang memaparkan mengenai rencana jangka panjang pendidikan tinggi.

Dia mengatakan, pendidikan tinggi merupakan salah satu pondasi penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia sehingga mereka mampu beradaptasi dengan rencana pembangunan Indonesia demi mencapai resilien 2045. “…the role of education is to escape middle income…by improving competitiveness and increasing people’s prosperity through higher education”.

Lely Pelitasari Soebekty SP ME, Wakil Ketua Ombudsman RI, menyampaikan topik mengenai peran pemerintah dan governance urgency dalam mempersiapkan 2045 bagi Indonesia, terutama dari sisi aspek penyedia public services  (pelayanan publik) yang berintegritas.

Kata dia, Ombudsman ada untuk mengawasi bahwa good governance dilaksanakan dengan baik oleh pihak-pihak yang terlibat, “to achieve good governance and good public service in Indonesia, we need to start now, we need to start from ourselves,…. Integrity is all”. (wh)