Bangun Depo MRT, Risma Ingin Beli Penjara Kalisosok

Bangun Depo MRT, Risma Ingin Beli Penjara Kalisosok

Tak salah bila Bappenas menilai Surabaya menjadi salah satu kota paling siap dalam membangun Mass Rapid Transit (MRT) alias Angkutan Massal Cepat (AMC). Selain telah mempersiapkan rancangan mulai studi kelayakan, konsep park and ride, hingga persiapan angkutan feeder, Pemerintah Kota Surabaya telah mendiskusikannya dengan Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan dan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengakui, pertemuannya dengan Hermanto Dwi Atmoko dan Ignatius Jonan pada Musrenbangnas di Jakarta, Senin (28/4/2014) hingga Rabu (30/4/2014). Ketiganya membahas mengenai pengelolaan MRT yang nantinya akan diberikan kepada PT KAI.

Di samping itu, Risma menyatakan rencananya untuk membeli penjara Kalisosok. Penjara yang berdiri sejak 1808 itu ternyata sudah lama diincarnya. “Kita rencana mau beli Kalisosok untuk depo MRT. Saya tetap ingin beli Kalisosok karena itu kan, ada sejarahnya,” ungkapnya.

bangunan-Kalisosok

Ia berharap, pendapatan dari penyewaan beberapa lahan pemkot kelak terkumpul. Sehingga dapat diinvestasikan untuk pembelian bangunan cagar budaya tersebut.

“Tapi kemudian Pak Jonan (Direktur Utama PT KAI, Red) bilang, ‘nggak usah bu Risma. Pakai lahan kita saja’,” cetusnya.

Bahkan, Jonan menawarkan asset-asetnya, sehingga PT KAI akan menjadi operator setelah dilakukan lelang oleh Dirjen Perkeretaapian.

Selain menghasilkan kesepakatan pengelolaan MRT, Risma juga membicarakan harga tiket yang akan dipastikan akan disubsidi oleh pemkot. Menurutnya, subsidi tersebut akan diperoleh dari hasil tiket parkir di gedung Park and Ride. Pun dari sewa stan pusat belanja dan sentra PKL.

“Pak Jonan bilang, masyarakat cukup diminta Rp 3.000 saja seandainya tiket seharga Rp 5.000. Yang Rp 2.000 bisa kita ambil dari lokasi Park and Ride seperti pemasangan iklan, pusat belanja, dan lain-lain,” jelas Risma.

Dari subsidi tersebut, sambung Risma, Jonan menyatakan bisa menekan nilai investasi trem yang semula direncanakan sebesar Rp 2 triliun. “Pak Jonan bilang, trem Rp 2 triliun itu masih mahal. Makanya PT KAI dan tim pemkot masih menghitung lagi. Katanya masih bisa ditekan, karena trem tidak pakai kabel. Sistemnya bisa diganti dengan men-charge energi setiap berhenti di depo, kemudian jalan,” urainya. (wh)