Bakrie Telecom Tukar Utang dengan Saham Senilai USD 266 Juta

 

Bakrie Telecom Tukar Utang dengan Saham Senilai USD 266 Juta

PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) siap menukar saham (share swap) perseroan dengan utang wesel senior senilai USD 266 juta. Nilai share swap tersebut sekitar 70 persen dari total utang wesel yang mencapai USD 380 juta. Proses restrukturisasi utang itu segera masuk perjanjian final.

“Dalam proposal reprofiling utang yang kami ajukan, sekitar 70 persen dari nilai outstanding wesel ditukarkan dengan secured conditionally exchangeable bonds (CEBs),” kata Direktur Utama Bakrie Telecom Jastiro Abi.

 Pemegang wesel memiliki pilihan untuk menukar CEBs menjadi saham Bakrie Telecom dengan harga diskon. Harga tukar pada periode tahun pertama setelah tanggal efektif sebesar 20 persen, tahun kedua diskon 10 persen, dan tahun ketiga 5 persen.

Jastiro mengungkapkan, jika Bakrie Telecom merealisasikan konsolidasi dengan salah satu operator telekomunikasi, 100 persen CEBs akan ditukar dengan saham sesuai ketentuan.

Pertukaran CEBs menjadi saham akan mengacu pada nilai saham BTEL di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jika saat konversi harga BTEL berkisar antara Rp 320 (batas tertinggi) dan Rp 175 (batas bawah), pemegang CEBs akan menerima jumlah yang 100 persen sama dengan nilai surat utang.

Jika harga BTEL di atas Rp 320 atau di bawah Rp 175, pemegang CEBs akan menerima jumlah saham dengan formula yang ditentukan, yaitu harga pasar dibagi dengan harga atas atau harga bawah, kemudian dikali dengan nilai surat utang.

Namun, jika aksi konsolidasi tidak terjadi selama periode liquidity event, CEBs bisa ditebus pada ulang tahun ke-6,5. Adapun jatuh tempo 70 persen dari total outstanding wesel senior tersebut diperpanjang menjadi 6,5 tahun sejak tanggal efektif kesepakatan.

CEBs memberikan kupon 5 persen per tahun selama periode 5,5 tahun, serta 1 persen per tahun yang dikapitalisasi setelah periode liquidity event dan dibayar ketika jatuh tempo. Liquidity event berlaku tiga tahun setelah tanggal efektif.

Sementara itu, proposal reprofiling wesel Bakrie Telecom juga memuat ketentuan lain. Sisa utang sebesar 30 persen dari outstanding akan ditukar dengan secured guaranteed notes yang jatuh tempo lima tahun sejak tanggal efektif. Bunganya sebesar 1 persen per tahun. Selanjutnya 3 persen per tahun dalam bentuk utang atau ekuitas (payment in kind/PIK interest) yang akan ditambah dan dibayar selama enam tahun setelah tanggal efektif.

Pada tahun pertama, perseroan akan melunasi 7,5 persen dari nilai pokok obligasi. Pada tahun kedua, ketiga, dan keempat masing-masing pelunasan sebesar 17,5 persen, sedangkan tahun kelima pelunasan sebesar 40 persen.

“Kami punya niat yang baik dalam reprofiling surat utang ini. Seluruh arus kas bersih (net cash flow) akan dialokasikan untuk kepentingan kreditor,” kata Jastiro.

Dia menegaskan, penasihat hukum dari steering committee (SC) telah mendukung reprofiling. Bakrie Telecom optimistis perjanjian final dapat disepakati dan diserahkan kepada pemegang wesel pada kuartal IV-2014.

Sebelumnya, para pemegang wesel terpecah menjadi dua kubu. Selain SC, terdapat satu kubu yang menempuh jalur hukum. Kubu kedua ini bernama ad hoc committee. Para investor yang menggugat antara lain Universal Investments Advisory SA dari Jenewa, manajer investasi Vaquero Master EM Credit Fund Ltd dari San Antonio, dan Trucharm Ltd dari Jersey.

Gugatan tersebut diajukan oleh Universal Investment Advisory SA terhadap Bakrie Telecom Pte, 652890/2014, di New York State Supreme Court, New York County (Manhattan). Gugatan itu menyusul ketidakpercayaan investor terhadap kemampuan Bakrie Telecom membayar bunga wesel. Per Juni 2014, kas dan setara kas Bakrie Telecom tercatat hanya sebesar Rp 55,25 miliar. (bst/ram)