Bahasa Inggris Kendala Pekerja Indonesia Hadapi AFTA

Bahasa Inggris Kendala Pekerja Indonesia Hadapi AFTA

 

Era Perdagangan Bebas atau ASEAN Free Trade Area (AFTA), dinyatakan diundur sampai 31 Desember 2015. Itu kabar baiknya. Kabar buruknya, pekerja Indonesia dinilai belum siap menghadapinya.

Itu diungkapkan oleh Kresnayana Yahya saat Launching TOEIC; Meningkatkan Kesiapan Pekerja Indonesia Songsong AEC di Hotel Santika Premiere, Jumat (28/2/2014).

“Pekerja kita masih belum siap. Banyak yang belum bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris,” cetus Chairperson Enciety Business Consult itu. Forum itu dihadiri 20 orang training manager hingga human resource development beberapa BUMN, lembaga pendidikan, hingga industri hotel.

Interaksi yang menuntut komunikasi dengan bahasa asing semakin tinggi. Pekerja Indonesia yang tak mampu berbahasa Inggris, lanjut Kresna, bisa menghambat peluang bisnis perusahaan yang mempekerjakannya. Kebutuhan kemampuan tersebut, tidak semata-mata diperlukan oleh petinggi perusahaan saja. “Pada level teknis pun juga dibutuhkan demi kelancaran komunikasi. Itu tidak bisa dihindari,” ujarnya.

Hambatan akibat kurangnya kemampuan berbahasa itu lantas diamini hampir semua peserta forum. Seorang training manager hotel bintang empat Surabaya mengungkapkan, bahasa menjadi kendala utama begitu pegawainya melayani tamu asing.

“Sebenarnya kemampuan servisnya sangat baik. Tapi begitu berhadapan dengan tamu bule, mereka mendadak tidak ramah. Langsung kikuk, karena nggak tahu harus ngomong apa,” keluhnya. “Tak jarang, sang pegawai kabur atau eyel-eyelan dengan pegawai lain agar bukan dia yang berbicara,” imbuh Kresna.

Pun dengan tanggapan kepala HRD sebuah BUMN. “Kalau yang muda-muda beberapa ada yang bisa diandalkan, pak. Tapi masih banyak juga sekelas manajer itu nggak bisa bicara bahasa Inggris. Padahal semakin banyak klien kami yang dari perusahaan asing,” curhatnya.

Kresnayana memandang keadaan itu harus segera diatasi. “Sertifikasi berbahasa standar internasional, mutlak dilakukan. Lihat saja, hotel itu kan menjadi garda terdepan pelayanan sektor Perdagangan Restoran dan Hotel (PRH). Selevel bell boy saja kalau ndak bisa bagaimana? Bisa digantikan oleh pekerja dari negara ASEAN lain yang lebih cakap, dengan gaji yang sama,” urainya. Pun jajaran manajer yang belum fasih berbahasa Inggris. “Bagaimana nanti bisa benar dalam membaca kontrak-kontrak?” imbuhnya.

Digital literacy juga tak boleh luput dari perhatian. Melek digital bukan soal akses. Tetapi, memahami dengan baik fungsi teknologi untuk meningkatkan produktivitas kerja.

“Contoh paling sederhana adalah e-mail. Seringkali perusahaan-perusahaan asing harus telepon dulu ke Indonesia untuk minta mengecek e-mail sudah dibaca atau belum. Ini kan, berarti belum melek teknologi. Cost jadi nambah hanya gara-gara email tidak segera direspon,” papar Kresna.

Untuk itu, setidaknya ada 2 langkah solusi yang bisa diambil oleh perusahaan dalam mempersiapkan para pekerjanya hadapi AFTA. “Pertama, lakukan pemetaan kemampuan. Kedua, dari sana bisa dilakukan evaluasi pekerjaan apa yang sesuai kemampuan berkomunikasi dan skill­-nya,” urai Kresna. Sebab, tidak semua pekerjaan menuntut kecakapan berberbahasa asing yang intens.(wh)