Bahas Underpass Satelit, REI Kumpulkan Pengembang Surabaya Barat

Bahas Underpass Satelit, REI Kumpulkan Pengembang Surabaya Barat
Paulus Totok Lusida (kanan)

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Jatim segera mengumpulkan para pengembang di kawasan Surabaya Barat. Itu dilakukan untuk merealisasikan skema pembangunan Underpass Satelit (US) di area bundaran Satelit, Surabaya.

“Sekarang ini masih saya hitung berapa kepastian rencana anggaran biaya pembangunan (RAP). Setelah itu baru kumpul-kumpul bersama para pengembang,” ujar Ketua DPD REI Jatim Paulus Totok Lucida.

Beberapa pengembang yang ada di wilayah Surabaya Barat, diakui memang sudah ada yang siap berpartisipasi dalam pembangunan. Terlebih jika rencanan pembangunan US dilakukan, akan membawa dampak positif kepada para pengembang.

“Memang ada beberapa perusahaan (pengembang,red) yang menyanggupi. Tapi mengenai nilainya berapa, masih belum tahu,” tegasnya.

Beberapa perusahaan yang siap berpartisipasi akan mengambilkan dana corporate sosial responsibility (CSR). Dengan dana tersebut, diharapkan US yang bakal dibangun mulai dari Jalan Mayjen Sungkono hingga HR Muhammad bisa segera terwujud.

Sedangkan pengembang yang informasinya sudah ada lampu hijau untuk turut bersama-sama mewujudkan pembangunan US itu antara lain Citraland, Pakuwon Indah, Graha Family, Bukit Darmo, Darmo Satelit Town, Darmo Harapan, Bukit Mas, Darmo Hill dan lain-lain.

Namun untuk nama-nama pengembang itu, Totok sejauh ini masih enggan mempublikasikannya dengan alasan masih perlu ada pembahasan lebih lanjut.

“Mohon maaf, untuk daftar pengembangn belum bisa keluar. Doakan saja semuanya (pengembang di Surabaya Barat,red) kompak dan bersedia semua,” pungkasnya.

Seperti diketahui saat MoU (memorandum of understanding) antara REI Jatim dengan

Wali Kota Surabaya disebutkan setidaknya sudah ada 20 pengembang yang siap berpartisipasi mewujudkan US. Namun dirinya memang belum merinci secara detail siapa saja pengembang yang siap berpartisipasi.

Sedangkan dari anggaran perkiraan awal pembangunan US itu akan membutuhkan dana sekitar Rp 56 miliar namun akhirnya membengkak sekitar Rp 66 miliar karena melemahnya nilai tukar rupiah. (wh)