Bagi Tips Kelola Sampah, Risma: Jangan Pendekatan Project

Bagi Tips Kelola Sampah, Risma: Jangan Pendekatan Project

 

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berbagi resep bagaimana menjadikan kota Pahlawan bersih dari sampah. Itu saat dia menjadi pembicara dalam Knowledge Sharing Workshop yang dihadiri belasan perwakilan organisasi lingkungan hidup asing tersebut menjelang penutupan The Fifth Regional 3R in The Asia-Pacific di Hotel Sheraton, Kamis (27/2/2014).

Beberapa yang ia paparkan di antaranya pengelolaan sampah dan penghijauan di banyak sudut kota. Saat ditanya oleh perwakilan ICLEI Japan, Michie Kishigami, apa tips menggerakkan warga urban Surabaya untuk peduli, Risma tersenyum.

The key is the touch of the leader. People need the touch of their leader (Kuncinya adalah sentuhan pemimpin. Masyarakat butuh sentuhan pemimpinnya langsung),” kata Risma.

Risma menjelaskan, pemimpin harus mau memberi contoh ke masyarakat. Dengan begitu, warga akan bisa merasakan perbedaan setelah mereka peduli terhadap kebersihan lingkungannya.

“Akan berbeda, bila pemimpin memberi contoh, dilakukan oleh warga, lalu jerih payah mereka diapresiasi. Mereka akan merasakan dampaknya langsung,” urainya.

Maka, Risma yang senang blusukan itu memilih turun langsung daripada sekadar membuat program. “Pendekatan saya bukan pendekatan project. Saya sih bisa saja bayar orang untuk membersihkan semuanya. Tapi itu kan, tidak mendidik,” cetusnya.

Di samping itu, sambung dia, pendekatan proyek tidak aka sustainable. Sebab, katanya, bila pemimpinnya berganti dan tidak peduli, program tersebut terancam mandeg.

Sebaliknya, ia lantas memilih untuk melakukan pendekatan sosial. Yakni, memberikan pemahaman bahwa kebersihan adalah kebutuhan mereka. Juga pemahaman bahwa menjaga kebersihan lingkungan adalah satu-satunya cara mereka bila ingin sehat.

“Di berbagai kesempatan kalau saya ngisi acara warga, saya sampaikan kalau kebersihan itu bukan kepentingan saya. Tapi itu kebutuhan mereka,” katanya.

Menyapu langsung kampung kotor yang ia kunjungi juga jadi jurus andalan Risma. “Di mobil saya ada sapu, ya saya sapu aja kampung mereka. Akhirnya mereka nggak enak sendiri melihat saya,” ujarnya jujur.

Risma mengungkapkan, cara itu cukup ampuh untuk mendorong warga agar mau melakukan hal yang sama. Perlahan tapi pasti, kekompakan warga terbentuk dari rasa kepedulian lingkungan itu. Kontrol sosial terbentuk, karena setiap orang memiliki perasaan kebersihan yang sama.

“Sampai kalau ada orang luar kota buang sampah sembarangan, mereka bakal menegur dan menyuruhnya mengambil lagi sampahnya. Tapi proses menuju ke sana, warga harus diingatkan terus,” jelasnya.

Risma mengakui, tiap minggu ia harus mengunjungi 10 sampai 12 lokasi untuk mengecek dan mengingatkan warga pentingnya menjaga kebersihan.

Perwakilan dari Citynet Aisa Tobing memuji terobosan dan ketekunan pemkot Surabaya dalam menggerakkan warga kotanya. “Saya salut dengan Surabaya dan Ibu Risma. Dalam waktu kurang dari 5 tahun, perubahannya sungguh pesat. Saya harap kota-kota lain di Asia-Pasifik, terutama Indonesia, segera menerapkan konsep yang sama,” tuturnya.(wh)