Azwar Anas : Disparitas Antardaerah Jatim Masih Tinggi

Azwar Anas : Disparitas Antardaerah Jatim Masih Tinggi

Infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah bagi Gubernur Jatim terpilih. Terutama, sarana transportasi publik antar kota di provinsi paling timur Pulau Jawa tersebut.

Menurut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, komposisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim masih didominasi kota/kabupaten tertentu.

“Saya lihat dari struktur PDRB Jatim, 44 persen masih berkutat dari 4 kota/kabupaten, Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan. Ya karena memang mereka pusat pertumbuhan industri,” ucapnya saat menghadiri acara pelantikan Soekarwo-Saifullah Yusuf di DPRD Jatim, Rabu (12/2/2014).

Disparitas antarkota dan kabupaten itulah yang dinilai Azwar Anas, perlu segera diatasi. “Harus ada political will. Sebab infrastruktur penting bagi publik, terutama untuk pemerataan ekonomi,” tegasnya. Problem kemacetan dan masalah sosial lainnya, bisa terus bermunculan.

Azwar Anas lantas menyebutkan, setidaknya ada 3 solusi yang bisa mengatasi disparitas tersebut. Keberadaan kereta cepat diyakininya mengurai masalah distribusi barang.

“Saya berharap, kalau double track bisa sampai Banyuwangi, itu sangat membantu mobilisasi barang,” katanya. Jika double track terbentang antara Surabaya-Banyuwangi, problem distribusi 8 kabupaten di sekitarnya bisa teratasi. Pertumbuhan ekonomi akan menyebar di Jatim. “Kita tahu sendiri, load factor pantura sudah sangat besar,” imbuhnya.

Di samping itu, daerah Babat dan Banyuwangi termasuk jalur pantai utara Jatim yang mengalami kerusakan parah, sehingga berkontribusi menghambat aktivitas ekonomi. Urusan konektivitas harus ditangani secara serius. “Kereta api ini penting. Kita belajar dari bagaimana Eropa menyelesaikan masalah connectivity dengan KA. Saya yakin kalau duit, anggaran kita cukup,” ungkapnya.

Yang kedua, pelabuhan. Pengembangan pelabuhan dipandangnya tak kalah penting. Kendati rute penerbangan di bandara Blimbingsari bertambah dan landasannya diperluas, ia tak puas.

“Pelabuhan juga perlu dikembangkan. Kalau pesawat kan untuk investor, lebih ke kalangan kelas atas,” katanya.

Ketiga ialah pembangunan waduk dan embung untuk memenuhi kebutuhan perairan dan pertanian. Bila pemerintah provinsi Jatim memprioritaskannya, ketahanan pangan Jatim akan kian kuat. “Banyuwangi sendiri targetkan 10 juta meter kubik untuk mengairi 180 hektar sawah,” tegasnya.(wh)