Asyiknya Ngopi sambil Merelaksasi Otak

Asyiknya Ngopi sambil Merelaksasi Otak
Situasi Kota Kitakyushu pada saat malam hari, Kamis (1/10/2015) malam. foto: Arya Wiraraja/enciety.co

Banyak cerita yang tercecer di bumi Kitakyushu, Jepang. Selain kemajuan kota dan terobosan di bidang lingkungan, kehidupan sehari-hari masyarakat disana. Berikut laporan Arya Wiraraja, jurnalis enciety.co, yang melakukan kunjungan ke Kota Kitakyushu, pekan lalu.

Rata-rata penghasilan keluarga di Jepang 1 bulan sekitar 35 ribu yen atau sekitar Rp 35 juta. Di Jepang, selain ayah, ibu rumah tangga juga bekerja. Memang hal ini tidak diatur dalam undang-undang, namun karakter orang Jepang yang mandiri yang membuat Jepang memiliki budaya kerja.

Selain itu, ada faktor sekunder yang mendorong budaya tersebut ada hingga sekarang, yaitu tingginya pajak di Negeri Matahari Terbit itu. Kebanyakan, anak muda di Jepang juga bekerja. Mereka yang bekerja mulai setelah lulus di tingkat pedidikan SMA.

Menurut pemandu kami, Hasan Sholihin, keluarga di Jepang yang taraf hidupnya menengah ke atas, kebanyakan hanya punya satu mobil bagi satu keluarga. Hal ini dikarenakan Pemerintah Jepang mengenakan pajak yang tinggi.

Ada dua jenis mobil yang ada di Jepang. Pertama, mobil yang menggunakan plat putih, mobil ini memiliki pajak yang sangat tinggi. Hal ini lantaran mobil dengan plat nomor putih memiliki mesin di atas 1000 cc dan menghabiskan bahan bakar lebih banyak ketimbang mobil jenis plat yang lain. “Yang kedua mobil plat nomor kuning. Mobil dengan plat kuning memiliki mesin di bawah 1000 cc,” ujar Hasan.

Dia lalu menjelaskan, kebijakan pajak yang tinggi ini ternyata diimbangi nilai tenaga kerja Jepang yang tinggi. “Perlu diketahui, tenaga kerja di Negeri Sakura itu sangat mahal. Maka dari itu, masyarakat Jepang dituntut harus mampu bekerja lebih giat,” ungkap pria yang telah 14 tahun menetap di Jepang itu.

Setelah kami seharian melakukan kunjungan ke beberapa fasilitas Pemerintahan Kota Kitakyushu, kami menuju ke Station Hotel yang lokasinya di sebelah Stasiun Kokura, tepatnya di tengah Kota Kitakyushu.

Sesampainya di hotel, mengingatkan jika 1 jam dari sekarang, bagi kami yang ingin mencari cendera mata bagi kerabat dan teman dapat berkumpul di loby hotel.

“Kawan-kawan yang ingin jalan-jalan ayo lekas bersiap. Kita malam ini akan berjalan-jalan di sekitar hotel, ada toko oleh-oleh yang murah, ingat waktu kita hanya satu jam untuk mandi dan ganti baju, karena toko-toko di Jepang rata-rata tutup pukul 21.00 waktu setempat,” serunya dengan semangat.

Kami pun bergegas menuju ke kamar kami masing-masing. Waktu menunjukkan pukul 18.00, saya pun bergegas bergantian mandi dengan dua kawan sekamar saya. 1 jam kemudian, kami mulai berkumpul di lobby hotel. Dengan menggunakan kaus oblong warna hitam, saya bersama dua kawan saya Herpin dan Ridwan, tiba di lobby. Kedua kawan saya tersebut merupakan jurnalis senior di salah satu kantor berita swasta di Surabaya.

Tak lama, Hasan dengan semangat tiba. “Sudah siap? Ayo kita berangkat! Karena tempatnya dekat, malam ini kita berjalan kaki saja, ya,” serunya penuh semangat.

Sekitar 30 menit kami menyusuri jalanan Kota Kitakyushu yang masih becek didera hujan tadi sore. Tak lama, Hasan berseru kepada kami. “Kawan-kawan, silakan yang berbelanja, ini tokonya. Toko yang berwarna merah muda atau pink di sebelah kiri jalan,” ucap dia.

Tidak tinggal diam, kami pun menyerbu toko oleh-oleh khas Negeri Sakura itu. Banyak barang yang ditawarkan di toko dua lantai itu. Kami kuwalahan memilih beraneka ragam oleh-oleh yang dijajahkan, mulai dari payung transparan sampai handicraft. Hampir 1,5 jam kami memilih barang, saya pun bergegas ke kasir took, lalu meninggalkan toko itu bersama kawan-kawan lainnya.

Kondisi salah satu parkiran di depan sebuah toko oleh-oleh di Kota Kitakyushu pada saat malam hari, Kamis (1/10/2015) malam. foto: arya wiraraja/enciety.co
Kondisi salah satu parkiran di depan sebuah toko oleh-oleh di Kota Kitakyushu pada saat malam hari, Kamis (1/10/2015) malam. foto: arya wiraraja/enciety.co

Saat itu, ada hal menarik yang saya lihat, di parkiran toko oleh-oleh khas Jepang yang bernama Daiso itu. Banyak sepeda angin yang terparkir. Belakangan saya tahu kalau masyarakat Jepang kebanyakan menggunakan sepeda angin dan berjalan kaki. Nilai pajak kendaraan bermotor di Jepang sangat tinggi juga menyebabkan masyarakat jepang memilih menggunakan moda angkutan umum massal, seperti monorel dan bus.

Setelah itu, kami melanjutkan agenda pelesir kami ke berbagai tempat yang ada di sekitar toko itu. Setelah berjalan 30 menit, saya melihat hal menarik. Ternyata di Kota Kitakyushu memiliki budaya yang sama dengan Kota Surabaya. Di Kitakyushu, punya budaya ngopi. Masyarakat Jepang punya jam kerja yang berbeda dengan masyarakat Indonesia. Dalam seharinya, Indonesia punya 2 shif jam kerja. Berbeda dengan pembagian jam kerja di Jepang yang punya 3 shif dalam sehari.

Suasana ketika ngopi di sebuah pusat perbelanjaan di Kota Kitakyushu, Jepang, Kamis (1/10/2015). foto: arya wiraraja/enciety.co
Suasana ketika ngopi di sebuah pusat perbelanjaan di Kota Kitakyushu, Jepang, Kamis (1/10/2015). foto: arya wiraraja/enciety.co

Hal itu membuat mereka merasa lelah, karena kebanyakan orang Jepang memiliki dua profesi yang berbeda dalam sehari. Untuk itu, ngopi bagi orang Jepang adalah gaya hidup yang harus dilakoni saban harinya.

Menurut Hasan, saban hari penduduk Jepang meenyempatkan ngopi dan bersantai minimal 1 jam dalam sehari. “Ngopi menjadi kebutuhan biologis bagi mereka untuk merelaksasi otak mereka setelah seharian bekerja. Selain itu, ngopi juga jadi media sosialisasi mereka, hampir sama seperti di Indonesia,” ulasnya.

Saat itu, kami menyempatkan diri untuk mampir ke cafe atau kedai yang menjual minuman di kawasan tersebut. Ketika itu saya dan teman-teman ditawari sake, minuman fermentasi yang terbuat dari gandum. Sake adalah minuman keras tradisional Jepang. Biasanya warga Jepang meminum sake untuk kesehatan, karena udara di Jepang jauh lebih dingin ketimbang di Surabaya.

“Kawan-kawan harus cermat. Biasanya mereka menawarkan sake, jika kawan-kawan tidak minum minuman keras, mungkin kawan-kawan bisa mencicipi minuman khas Jepang yang lain, seperti es kacang tanah yang di atasnya di taburi sirup berwarna-warni, atau kopi khas Negeri Sakura ini,” jelasnya.

Malam itu menjadi malam yang panjang dan asyik bagi kami, karena menjadi malam terakhir kami di Kota Kitakyushu, Jepang. Rona kegembiraan terpancar dari kawan-kawan jurnalis malam itu. Tawa kecil dan senda gurau membuat kami hanyut dalam suasana sederhana dan kekerabatan.

Waktu berlalu begitu cepat. Jarum jam menunjuk pukul 24.00 waktu setempat. Kami pun bergegas menyudahi suasana damai kekeluargaan itu untuk kembali ke hotel tempat kami menginap, Station Hotel Kokura. Esok pagi pukul 6.00, kami bergegas ke Bandara Fukuoka untuk pulang ke kota tercinta, Surabaya. (wh)