Asing Sangat Minati Pasar E-Commerce Indonesia

Asing Sangat Minati Pasar E-Commerce Indonesia
sumber foto: lerablog

E-commerce Indonesia merasa persaingan antarregional di bisnis toko online kian sengit menjelang diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

CEO bhineka.com Hendrik Tio mengatakan, Indonesia merupakan pasar seksi bagi e-commerce asing karena banyaknya jumlah penduduk di Indonesia yang berselancar online.

“Secara tidak langsung, kalau bicara persaingan di regional, Indonesia adalah market yang luar biasa seksi untuk orang regional. Perbandingannya, kita punya masyarakat online kira-kira 80 juta, Singapura cuma 10 juta. Nah kalau Filipina agak ketinggalan sedikit dengan kita,” kata Hendrik di Jakarta, Rabu (27/5/2015).

Saat ini, lanjut Hendrik, semua mata sedang tertuju pada Indonesia. Dengan adanya MEA, e-commerce asing akan lebih mudah berjualan di Indonesia, sedangkan kantor pusatnya di Singapura. Jadi para pengusaha e-commerce tak perlu bayar pajak.

Meski lebih banyak persaingan yang dihadapi, Hendrik tak memugkiri e-commerce dalam negeri juga akan menikmati keuntungan, utamanya yang menyediakan jasa market place. “Eksportir akan senang dengan adanya MEA karena bisa berjualan ke luar negeri bebas nantinya,” ujarnya.

Selain itu, persaingan akan bertambah ketat karena banyak tenaga kerja berpotensi asal Indonesia yang justru bekerja di luar negeri saat MEA diberlakukan kelak. Diharapkan, pemerintah akan memberi dukungan penuh pada w-commerce asal Indonesia, dan bukannya justru membebankan peraturan yang menghambat.

“Ini MEA baru mau mulai, saya harap pemerintah kita benar-benar mendukung. Jangan sampai seperti merebus katak, airnya mendidih tapi kataknya sudah entah lari kemana, di luar sana itu mereka well educated, well knowledge dan well infrastructure,” katanya.

Salah satu peraturan yang dirasa menghambat adalah wacana pembebanan pajak pada bisnis online yang belum jelas penerapannya. “Kalau e-commerce yang sudah eatablished seperti Bhineka, kami memang sudah membayar pajak baik PPn maupun PPh, tapi bagaimana dengan yang ada di marketplace? Itu aturannya harus jelas dulu, pembebanan pajak untuk e-commerce seperti apa,” kata Hendrik yang juga merupakan ketua dewan pembina Asosiasi eCommerce Indonesia (IdEA) ini.

Ke depan, diharapkan pemerintah bisa memeri insentif pada e-commerce Indonesia seperti pembangunan infrastruktur baik koneksi jaringan internet maupun koneksi jaringan transportasi fisik.

“Harapannya, pemerintah bisa memeratakan internet dan jalan-jalan dibangun hingga ke pelosok-pelosok agar harga barang menjadi seimbang, saat ini kita ada jual barang ke Papua bisa beda hingga Rp500.000 dibanding barang yang dijual di Jakarta,” katanya. Saat ini ada sekitar 150 e-commerce asli Indonesia yang terdaftar dalam IdEA.

“Jika MEA diberlakukan dan pemerintah tetap tidak memberikan dukungan, dikhawatirkan akan banyak e-commerce yang akan mendirikan kantor pusat di luar negeri dan jualan di sini. Kucing-kucingan aja,” katanya. (ant/wh)