ASDP Usulkan Penyeberangan Ujung-Kamal ditutup

 

ASDP Usulkan Penyeberangan Ujung-Kamal ditutup

PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Surabaya mengusulkan agar penyeberangan Ujung-Kamal ditutup. Usulan ini tidak lepas dari terus merosotnya jumlah penumpang yang berdampak pada menurunnya pendapatan.

General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Surabaya, Elvi Yosa kepada wartawan menjelaskan ada dua opsi yang diajukan kepada pemerintah. Opsi pertama adalah mengajukan public service obligation (PSO/ subsidi), sedangkan usulan kedua adalah penutupan.

“Kami berharap ada kebijakan dari pemerintah, mengenai pengaturan kendaraan yang boleh dan tidak boleh melintas di Jembatan Suramadu. Terus terang, keberadaannya (Suramadu) menyebabkan jumlah penumpang kami merosot tajam,” ungkap Elvi.

Hal ini berkaca pada selisih harga tiket penyeberangan di Suramadu dan penyeberangan ferrry Ujung-Kamal yang cukup jauh. Kendaraan kelas MVP yang melintas Suramadu Rp30.000 dan motor dipatok Rp3.000. Dedangkan melalui kapal ferry untuk mobil MVP dipatok Rp40.000 dan motor Rp7.000.

Nilai ekonomis yang didapat melalui Suramadu adalah kecepatan dibanding melalui kapal ferry. “Kalaupun harga penyeberangan kita naikkan, tetap kita kalah bersaing. Dengan harga yang lebih murah saja kita masih kalah, apalagi dengan harga tiket yang sama atau lebih mahal,” lanjutnya.

Elvi mengungkapkan penurunan jumlah penumpang setiap tahunnya rata-rata sekitar 5-8  persen. Catatan jumlah penumpang di Ujung-Kamal tahun 2013 mencapai 5.451. Bahkan pada angkutan Lebaran tahun ini jumlah penunmpang yang melintas penyeberangan Ujung-Kamal turun sekitar 12 persen dibanding tahun lalu.

“Kecuali kalau roda dua, dilarang melintas Suramadu atau diwajibkan menyeberang kapal ferry, kita masih bisa hidup. Bisa jadi kita tidak mengajukan PSO atau menutup,” tegasnya. meski tidak menyebut angka, kontribusi roda dua cukup besar dibanding kendaraan lain untuk penyeberangan Ujung-Kamal.

Sebab lain adalah biaya operasional pengelolaan penyeberangan yang mahal. Indikatornya jumlah kapal yang beroperasi dari enam unit menjadi empat unit dari tiga shipping line. “Secara value tidak bisa kami sampaikan, yang pasti belanja solar, pelumas, tenaga kerja cukup mahal, bisa mencapai ratusan juta rupiah perbulan,” tutup Elvi. (wh)