Arus Petikemas Domestik Tanjung Perak Naik 10-15 Persen

Arus Petikemas Domestik Tanjung Perak Naik 10-15 Persen

 

Pertumbuhan arus petikemas domestik di Pelabuhan Tanjung Perak tak lepas dari interkoneksi antarpelabuhan. Pelabuhan di kawasan ini menjadi trigger (pemicu) dan pendorong pertumbuhan petikemas domestik.

Direktur Operasi dan Teknik PT Pelabuhan Indonesia III, Faris Assagaf mengungkapkan, upaya perbaikan dan peremajaan alat menjadi poin penting pertumbuhan arus barang. Seperti yang dikemukakan kepada wartawan, Jumat (21/2/2014), ia menyebutkan terdapat tiga komoditi yang mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir. Selain petikemas, curah kering dan curah cair mengalami peningkatan cukup tinggi.

Kenaikan year on year (YoY) petikemas domestik saja rata-rata 10-15 persen. Sementara di Tanjung Perak, petikemas internasional mencapai 4-5 persen. “Banyak perbaikan yang sudah kita lakukan. Antara lain dengan peremajaan peralatan maupun interkoneksi antar pelabuhan,” ujarnya.

Faris mencontohkan, pertumbuhan petikemas domestik di Banjarmasin meningkat sejak tahun 2011. Dibandingkan pada tahun 2010, telah dilakukan pembelian alat bongkar muat untuk peningkatan kinerja.

“Sejak beroperasi tahun 2010, kenaikannya tumbuh antara 14-23 persen. Dan itu memicu pergerakan petikemas domestik di Tanjung Perak di Terminal Nilam dan Mirah saja, pada periode yang sama tumbuh hingga 52 persen. Itu belum termasuk di Berlian dan Jamrud,” urainya saat ditemui di ruang kerjanya, kantor PT Pelindo III lantai tiga.

Pria kelahiran Ternate, Maluku Utara itu menegaskan, petikemas domestik di Tanjung Perak memang tidak hanya dari Banjarmasin. Sebab, beberapa daerah seperti Kupang, Maumere, Bagendang, Sampit, Kumai, dan Lembar sudah menggunakan petikemas. Daerah-daerah yang sudah mengalami peralihan petikemas itu menjadi trigger setelah dilakukan investasi alat.

Sejak tahun 2005 silam, pertumbuhan serupa juga terjadi pada curah cair. Peningkatan di Sampit, Kumai, dan Kotabaru, membawa pengaruh bagi Tanjung Perak, Gresik, dan Tanjung Emas (Semarang).

“Pertumbuhan paling tinggi terjadi di Tanjung Emas, karena posisinya berdekatan dengan Kalimantan Tengah yang memiliki produktivitas CPO tertinggi,” paparnya. Pada tahun 2005 di Tanjung Emas, arus curah cair hanya 431.256 ton. Sedangkan pada tahun 2012, sudah menyentuh 1.225.679 ton.

Tahun ini saja PT Pelindo III tercatat telah melakukan investasi besar-besaran untuk pembelian alat guna mendukung produktivitas kerja bongkar muat. Salah satu yang paling besar ialah di Teluk Lamong. PT Pelindo III membeli alat paling canggih senilai kurang lebih Rp 1,5 triliun. (wh)