Argentina dan Jerman Memburu Sejarah

 

Argentina dan Jerman Memburu Sejarah

Laga final  Piala Dunia 2014   Senin (14/7/2014) nanti tak semata memperebutkan status juara. Bagi Argentina dan Jerman yang bentrok di palag pamungkas ini, pertandingan nanti sekaligus menjadi ajang menorehkan sejarah.  Partai final ini akan disiarkan langsung ANTV dan TV One mulai pukul 03.00 WIB.

Bagi Jerman, kemenangan berarti bakal menambah gelar juara mereka menjadi empat sekaligus memecahkan rekor menjadi tim Eropa pertama yang sanggup memboyong trofi saat kejuaraan sepak bola paling akbar ini digelar di Benua Amerika.

Sementara bagi Argentina, kemenangan di Stadion Maracana nanti membuat mereka bakal menambah tanda bintang di logo menjadi tiga, menyamai Jerman. Argentina kini juga menjadi andalan untuk mencegah “Tim Panser” merusak “kesucian” Tanah Amerika yang sudah bertahan selama 84 tahun.

Jerman sendiri kini tengah diliputi kepercayaan diri yang sangat tinggi menyusul kemenangan telak 7-1 atas tuan rumah Brasil, 7-1, di semifinal. Arsitek “Die Mannschaft”, Joachim Loew, juga optimistis tim asuhannya bisa mencetak sejarah. “Kami tahu bisa mencetak sejarah. Di masa lalu, kami tak pernah bisa membuatnya,” ujar pelatih yang menangani Jerman sejak 2006 ini.

“(Tim) Amerika Latin selalu dominan di benua ini. Tapi mengapa tidak? Ini akan menambah kegembiraan kami jika menjadi tim Eropa yang berjaya di tanah Amerika Latin,” Loew menambahkan.

Pelatih berusia 54 tahun ini yakin skuatnya memiliki kemampuan untuk mewujudkan keinginan itu. “Waktu yang akan menjawab. Kami memiliki pemain-pemain yang sedang berada di puncak kariernya namun kami punya barisan pemain muda dalam skuat ini, juga yang belum berada di sini,” katanya lagi.

Argentina tentu saja akan kembali mengandalkan Lionel Messi untuk bisa mengobrak-abrik pertahanan “Die Adler”. Namun Loew meyakinkan jika timnya tak gentar menghadapi pemegang empat Ballon d’Or ini. “Kami tak takut menghadapi siapa pun. Argentina tak cuma punya Messi. Jika Anda meyakini itu maka Anda keliru. Mereka juga punya (Angel) Di Maria, (Sergio) Aguero, (Gonzalo) Higuain. Tim ini tak cuma tergantung kepada Messi,” katanya lagi.

Messi, kata Loew, memang pemain kunci yang bisa jadi penentu namun dia bukan satu-satunya. Argentina juga disebutnya sebagai tim yang terorganisasi dengan baik dan telah menunjukkan hal itu selama turnamen.

Performa Argentina di final juga akan ditentukan oleh tampil atau tidaknya Di Maria. Pemain Real Madrid inilah sebenarnya yang menjadi aktor utama di balik sukses “Tim Tango” sejauh ini. Namun dia dihantam cedera saat perempat final melawan Belgia.

Absennya Di Maria sangat terasa dalam permainan skuat asuhan Alejandro Sabella di semifinal melawan Belanda. Serangan-serangan Argentina begitu mudah dipatahkan. Tak ada yang mampu mengobrak-abrik bek lawan, tugas yang biasanya dilakukan mantan pemain Benfica ini. “Albiceleste” pun hanya menang keberuntungan lewat adu penalti.

Saat konferensi pers Sabtu, Sabella tak bisa memastikan apakah pemain berusia 26 tahun itu akan tampil di final. “Kita lihat besok (Minggu). Saat ini saya tak mau bicara apa pun soal itu,” tutur Sabella,

Tanda-tanda membaiknya Di Maria sudah tampak sehari sebelum final digelar. Dia ikut berlatih bersama rekan-rekan setimnya. Banyak pengamat mengatakan, Di Maria tak akan tampil sebagai starter. Dia baru diturunkan sebagai pengganti, bila memang diperlukan.

Jika demikian, seperti halnya ketika semifinal, posisinya akan digantikan Enzo Perez. Dia tampil cukup bagus melawan Belanda namun tak sekuat Di Maria.

Menurut Sabella, menghadapi tim seperti Jerman, tim asuhannya harus tampil sempurna. “Kami harus menutup ruang, menguasai lapangan, dan tak boleh ambil risiko di area berbahaya,” ujarnya.

“Secara fisik dan taktik, Jerman adalah tim yang sangat kuat dan salah satu tim yang paling sering juara. Mereka memiliki sistem permainan yang ajeg, langsung, dan kuat. Mereka mengalirkan bola dengan tepat, memakai umpan bola diagonal dan punya full-back yang aktif membantu menyerang dari sayap. Kami harus tampil sempurna,” ungkap Sabella.

Loew tampaknya akan mempertahankan tim yang sukses membungkam Brasil di semifinal. Miroslav Klose akan tetap menjadi targetman ditopang tiga pemain Muller, Toni Kroos, dan Oezil. Bastian Schweinsteiger dan Sami Khedira akan beroperasi di depan empat bek.

Melihat dia bermain sangat efektif di semifinal, maka Philipp Lahm akan kembali ditempatkan sebagai bek kanan. Sang kapten ini sebelum semifinal ditugaskan menjadi gelandang bertahan seperti perannya di Bayern Muenchen. Jantung pertahanan akan dikawal duet Jerome Boateng dan Mats Hummels, sementara Benedikt Hoewedes beroperasi sebagai bek kanan. Di bawah mistar, Manuel Neuer, belum tergantikan.

Di kubu Argentina, Sabella akan tetap mengusung formasi 4-3-3. Aguero sudah pulih namun Ezequiel Lavezzi tampaknya bakal tetap turun sebagai starter bersama Messi dan Higuain di barisan depan. Jika Di Maria belum fit, Perez bakal menggantikan perannya di barisan tengah mendapingi, Javer Mascherano dan Lucas Biglia.

Martin Demichelis dan Ezequiel Garay mengawal jantung pertahanan bersama Pablo Zabaleta di kanan dan Marcos Rojo di kiri. Sementara kiper akan tetap dipercayakan kepada Sergio Romero.

Adu ketangguhan kiper dari kedua tim juga akan menjadi salah satu faktor yang membuat partai ini menarik. Neuer dan Romero telah membuktikan peran penting mereka di babak sebelumnya. Jika partai ini harus diselesaikan dengan adu penalti maka ini akan menjadi penentuan siapa yang akan menjadi kiper terbaik Piala Dunia kali ini.

Satu catatan penting. Neuer tak pernah mengalami adu penalti sepanjang Piala Dunia kali ini. Berbeda dengan Romero yang menjadi pahlawan timnyadi semifinal melawan Belanda. Aksinya mematahkan tendangan Ron Vlaar dan Wesley Sneijder, membuatnya menjadi pahlawan Argentina melaju ke partai puncak. (bst/ram)

Perkiraan Susunan Pemain Argentina dan Jerman

Jerman (4-2-3-1):
K: 1. Manuel Neuer
B: 16. Philipp Lahm, 20. Jerome Boateng, 5. Mats Hummels, 4. Benedikt Howedes
T: 7. Bastian Schweinsteiger, 6. Sami Khedira
T: 13. Thomas Muller, 18. Toni Kroos, 8. Mesut Oezil
D: 11. Miroslav Klose

Argentina (4-3-3):
K: 1. Sergio Romero
B: 4. Pablo Zabaleta, 15. Martin Demichelis, 2. Ezequiel Garay, 16. Marcos Rojo
T: 6. Lucas Biglia, 14. Javier Mascherano, 8. Enzo Perez
D: 22. Ezequiel Lavezzi, 10. Lionel Messi, 9. Gonzalo Higuain

Stadion: Maracana, Rio De Janeiro
Wasit: Nicola Rizzoli (Italia)