APTI Dukung Pengesahan RUU Pertembakauan

APTI Dukung Pengesahan RUU Pertembakauan
Musyawarah Nasional III Asosiasi Petani Tembakau Indonesia III APTI di Lamongan, Kamis (29/10/2015)

Musyawarah Nasional III Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (Munas III APTI) mengapresiasi perhatian dan upaya yang diberikan oleh para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI yang telah merumuskan dan memasukkan RUU Pertembakauan sebagai salah satu RUU inisiatif DPR.

Ketua Umum APTI periode 2015 – 2020 hasil Munas III APTI di Lamongan Jawa Timur, Soeseno berharap RUU Pertembakauan nantinya dapat melindungi keberlangsungan industri tembakau nasional.

“Selain itu untuk eningkatkan kesejahteraan petani tembakau di mana lebih dari 2 juta petani menggantungkan penghidupannya pada komoditas strategis ini,” kata Soeseno, Kamis (29/10/2015).

Diteruskannya, RUU ini seyogyanya menjadi solusi dari berbagai permasalahan pertanian tembakau Indonesia selama ini. Antara lain peningkatan produktivitas, peningkatan kualitas tembakau dan tata niaga tembakau sehingga kesejahteraan petani pun akan semakin membaik.

Faktor-faktor utama permasalahan yang dihadapi dalam pertanian tembakau antara lain minimnya dukungan infrastruktur dan bantuan teknis serta keterbatasan dalam mendapatkan akses permodalan untuk sewa lahan dan pembelian sarana produksi (bibit, pupuk, dan pestisida).

“Produktivitas dan kualitas tembakau yang dihasilkan saat ini belum dapat memenuhi semua permintaan pabrikan sehingga impor menjadi tak terelakkan,” tegasnya.

Soeseno menegaskan dengan adanya Program Kemitraan antara pelani tembakau dengan pelaku usaha, serta dukungan pemerintah untuk melakukan pendampingan secara berkesinambungan akan dapat mengurangi impor tembakau secara bertahap.

Dewan Pembina APTI Lalu Amin mengatakan bahwa Munas III APTI kali ini dilaksanakan bertepatan dengan Hari Petani Tembakau Sedunia yang diperingati setiap tanggal 29 Oktober.

Tembakau merupakan tanaman semusim yang hanya ditanam pada saat musim kemarau, dan merupakan komoditas tanaman yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan dengan komoditas selain tembakau yang dapat dikategorikan sebagai tanaman komplementer bukan pengganti.

Saat ini terdapat sekitar 13 varian tembakau yang ditanam di 119 daerah di 19 provinsi di seluruh Indonesia.

“APTI merekomendasi dan mendukung dijalankannya program kemitraan antara petani dengan sebagai salah satu solusi yang paling efektif untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas tembakau nasional,” kata Lalu Amin.

Saat ini, hanya ada beberapa pabrikan yang menjalankan program kemitraan sehingga jumlah petani yang tergabung didalamnya masih sangat minim. Meski demikian, APTI melihat bahwa petani yang tergabung dalam program kemitraan dapat menghasilkan tembakau dengan jumlah dan kualitas yang lebih baik, sehingga kesejahteraan mereka pun meningkat.

“Kami harap program kemitraan dapat didukung dengan baik oleh Pemerintah di tingkat nasional maupun daerah agar pertanian tembakau di Indonesia dapat terus berkembang secara berkesinambungan. Bahkan, APTI mendukung program kemitraan dimasukkan sebagai salah satu ketentuan dalam RUU Pertembakauan, agar pelaksanaannya dapat lebih terukur dan dilindungi hukum,” tandasnya.