April, Nilai Tukar Petani Jatim Turin 1,44 Persen

April, Nilai Tukar Petani Jatim Turin 1,44 Persen
sumber foto: panoramio

Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur pada April 2015 turun 1,44 persen dari 104,32 menjadi 102,82. Penurunan NTP ini disebabkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan 0,33 persen, sedangkan indeks harga yang diterima petani (It) mengalami penurunan 1,12 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik Jatim, M Sairi Hasbullah, di kantornya di Jl Kendangsari Industri, Surabaya, Senin (25/5/2015), menyatakan selama April 2015, empat sub sektor pertanian mengalami penurunan NTP dan sisanya mengalami kenaikan.

Penurunan NTP terbesar terjadi pada sub sektor tanaman pangan 3,65 persen dari 98,86 menjadi 95,25 diikuti hortikultura1,85 persen dari 105,03 menjadi 103,08, perikanan 0,73 persen dari 105,40 menjadi 104,63 dan sub sektor tanaman perkebunan rakyat 0,55 persen dari 101,79 menjadi 101,23. Sedangkan kenaikan NTP terjadi pada sub sektor peternakan sebesar 0,66 persen dari 111,32 menjadi 112,05.

Indeks harga yang diterima petani selama April 2015 turun 1,12 persen dibanding Maret 2015 yaitu dari 123,27 menjadi 121,89. Penurunan indeks ini disebabkan oleh turunnya indeks harga yang diterima petani pada tiga sub sektor pertanian dan sisanya mengalami kenaikan. Sub sektor tanaman pangan mengalami penurunan yaitu 3,23 persen, diikuti hortikultura 1,48 persen, dan sub sektor tanaman perkebunan rakyat 0,31 persen. Sedangkan sub sektor yang mengalami kenaikan indeks yang diterima petani adalah sub sektor peternakan 0,84 persen, dan sub sektor perikanan 0,19 persen.

Sepuluh komoditas utama yang menyebabkan penurunan indeks harga yang diterima petani pada April 2015 adalah gabah, cabai rawit, buah jeruk, tembakau, ikan tongkol, ikan cumi-cumi, ikan bandeng, buah durian, ikan cakalang, dan rajungan. Sedangkan sepuluh komoditas utama yang menghambat penurunan indeks harga yang diterima petani bulan April 2015 adalah ikan kuniran, sapi potong, bawang merah, buah apel, ikan lele, ikan swanggi, buah tomat, kakao, ikan tembang, dan ikan kakap.

Sementara indeks harga yang dibayar petani  mengalami kenaikan 0,33 persen dari 118,16 pada Maret menjadi 118,55  pada April 2015. Kenaikan indeks ini disebabkan oleh naiknya indeks harga konsumsi rumah tangga atau inflasi pedesaan 0,25 persen, dan kenaikan indeks harga Biaya Produksi dan Pembentukan Barang Modal (BPPBM) sebesar 0,54 persen.

Sedangkan komoditas utama yang menyebabkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani pada April 2015 adalah naiknya harga solar, tomat sayur, bensin, bawang merah, bawang putih, gula pasir, bibit ayam ras pedaging, pelet, kayu bakar, dan broiler finisher. Komoditas utama yang menghambat kenaikan indeks harga yang dibayar petani adalah turunnya harga beras, cabai rawit, bekatul, jagung pipilan, benih udang, ikan pindang tongkol, ikan selar, daging ayam ras, ketimun, dan buah salak.

Dari lima provinsi di Pulau Jawa yang melakukan penghitungan NTP pada April 2015, semua provinsi mengalami penurunan NTP. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Jawa Barat sebesar 2,54 persen diikuti Banten sebesar 2,19 persen, Jawa Tengah sebesar 2,08 persen, Jawa Timur sebesar 1,44 persen, dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 0,78 persen. (wh)