April 2016, Nilai Tukar Petani Jatim Naik 0.06 Persen

April 2016, Nilai Tukar Petani Jatim Naik 0.06 Persen

foto: enciety.co

Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur bulan April 2016 naik 0,06 persen dari 103,77 menjadi 103,83. Kenaikan NTP ini disebabkan penurunan indeks harga yang diterima petani (It) lebih rendah dari pada penurunan indeks harga yang dibayar petani (Ib). Hal tersebut disampaikan oleh Teguh Pramono, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Senin (2/5/2016).

Kata dia, pada bulan April 2016, empat sub sektor pertanian mengalami kenaikan NTP dan satu sub sektor mengalami penurunan NTP. Kenaikan NTP terbesar terjadi pada sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,96 persen dari 99,24 menjadi 100,19, diikuti sub sektor Perikanan sebesar 0,50 persen dari 104,48 menjadi 105,00, sub sektor Hortikultura sebesar 0,47 persen dari 104,50 menjadi 104,99, dan sub sektor Peternakan sebesar 0,13 persen dari 109,28 menjadi 109,43 persen.

“Sedangkan sub sektor yang mengalami penurunan NTP yaitu sub sektor Tanaman Pangan sebesar 0,66 persen dari 100,51 menjadi 99,85,” papar dia.

Indeks harga yang diterima petani turun 0,34 persen dibanding bulan Maret 2016 yaitu dari 130,22 menjadi 129,78. Penurunan indeks ini disebabkan oleh turunnya indeks harga yang diterima petani pada tiga sub sektor pertanian dan sisanya mengalami kenaikan.

Teguh menjelaskan, untuk sub sektor Tanaman Pangan mengalami penurunan terbesar yaitu 1,05 persen, diikuti sub sector Peternakan sebesar 0,34 persen, dan sub sektor Perikanan sebesar 0,06 persen. Sedangkan sub sektor yang mengalami kenaikan indeks harga yang diterima petani yaitu sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,63 persen, dan sub sektor Hortikultura sebesar 0,14 persen.

“Ada sepuluh komoditas utama yang menyebabkan penurunan indeks harga yang diterima petani pada bulan April 2016 adalah gabah, jagung, cabai rawit, jeruk, sapi potong, ikan nila, nilam, cabai merah, rajungan, dan udang,” paparnya.

Sedangkan sepuluh komoditas utama yang menghambat penurunan indeks harga yang diterima petani bulan April 2016 adalah tembakau, bawang merah, tomat, ikan gurame, kol/kubis, tongkol, ketela pohon/ubi kayu, ikan kuniran, buah apel, dan kopi.

Menurut data yang dihimpun oleh BPS Jatim, indeks harga yang dibayar petani mengalami penurunan sebesar 0,40 persen dari 125,49 pada bulan Maret 2016 menjadi 124,99 pada bulan April 2016. Penurunan indeks ini disebabkan oleh turunnya indeks harga konsumsi rumah tangga (inflasi pedesaan) sebesar 0,47 persen, dan penurunan indeks harga biaya produksi dan pembentukan barang modal (BPPBM) sebesar 0,20 persen.

Selain itum ia juga menjelaskan ada sepuluh komoditas utama yang menyebabkan penurunan indeks harga yang dibayar petani pada bulan April 2016 adalah solar, cabai rawit, bensin, beras, cabai merah, bekatul, broiler finisher, daging ayam ras, jeruk, dan kacang panjang.

“Sedangkan sepuluh komoditas utama yang menghambat penurunan indeks harga yang dibayar petani bulan April 2016 adalah tomat sayur, bawang merah, benih lele, upah membersihkan kapal, upah menuai/memanen, bawang putih, ikan cakalang, tongkol, ayam ras petelur, dan upah sortir,” tutur dia.

Dari lima Provinsi di Pulau Jawa yang melakukan penghitungan NTP pada bulan April 2016, Teguh mengurai, ada dua Provinsi mengalami kenaikan NTP dan sisanya mengalami penurunan. Kenaikan NTP terbesar terjadi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 0,32 persen, diikuti Provinsi Jawa Timur sebesar 0,06 persen.

“Sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Banten sebesar 1,25 persen, diikuti Provinsi Jawa Barat sebesar 1,10 persen, dan Provinsi Jawa Tengah turun sebesar 0,42 persen,” papar dia. (wh)