April 2016, Nilai Tukar Nelayan Jatim Naik 1,48 Persen

April 2016, Nilai Tukar Nelayan Jatim Naik 1,48 Persen

Kepala BPS Jawa Timur Teguh Pramono. foto: arya wiraraja/enciety.co

Nilai Tukar Nelayan (NTN) Jawa Timur bulan April 2016 naik sebesar 1,48 persen dari 107,61 pada bulan Maret 2016 menjadi 109,19 pada bulan April 2016.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur Teguh Pramono mengatakan, jika kenaikan NTN ini disebabkan karena indeks harga yang diterima nelayan mengalami kenaikan sebesar 0,07 persen sementara indeks harga yang dibayar nelayan mengalami penurunan sebesar 1,39 persen.

Kata dia, ada sepuluh komoditas utama yang mengalami kenaikan terbesar indeks harga yang diterima nelayan adalah ikan tongkol, ikan kuniran, ikan kembung, ikan layang, ikan bebara, ikan kerapu, ikan cakalang, ikan bawal, ikan manyung, dan ikan beloso.

“Sementara itu, kami mencatat ada sepuluh komoditas utama yang mengalami penurunan terbesar indeks harga yang diterima nelayan adalah rajungan, udang, ikan tenggiri, kepiting laut, cumi-cumi, ikan teri, ikan kapasan, ikan tembang, ikan gulamah, dan ikan swanggi,” ulasnya, Senin (2/5/2016).

Sepuluh komoditas utama yang mengalami kenaikan terbesar indeks harga yang dibayar nelayan adalah tomat sayur, bawang merah, upah membersihkan kapal, upah sortir, bawang putih, ikan cakalang, upah angkut ke TPI, gula pasir, petai, dan ikan tongkol.

“Sementara sepuluh komoditas utama yang mengalami penurunan terbesar indeks harga yang dibayar nelayan adalah solar, cabai rawit, bensin, beras, cabai merah, jeruk, cabai hijau, kacang panjang, ikan mujair, dan daging sapi,” urai dia.

Perkembangan NTN bulan April 2016 terhadap bulan Januari 2016 (tahun kalender April 2016) mengalami kenaikan sebesar 4,08 persen. Adapun perkembangan NTN bulan April 2016 terhadap bulan April 2015 (year-on-year April 2016) mengalami kenaikan sebesar 4,58 persen.

“Dari enam provinsi di Pulau Jawa yang melakukan penghitungan NTN pada bulan April 2016, lima provinsi mengalami kenaikan NTN sementara satu provinsi lainnya mengalami penurunan NTN,” papar dia.

Kenaikan NTN tertinggi, kata Teguh, terjadi di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang mengalami kenaikan sebesar 3,00 persen diikuti Provinsi Jawa Timur sebesar 1,48 persen, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 1,23 persen, Provinsi Jawa Tengah sebesar 1,01 persen, dan Provinsi Jawa Barat sebesar 0,57 persen.

“Sedangkan provinsi yang mengalami penurunan NTN adalah Provinsi Banten yang mengalami penurunan NTN sebesar 0,15 persen,” tandas dia. (wh)