Apel China Runtuhkan Dominasi Apel Malang

Apel China Runtuhkan Dominasi Apel Malang

 

Serbuan apel impor asal China semakin meruntuhkan dominasi apel Malang di negeri sendiri. Apel-apel impor tersebut bahkan dijual dengan harga murah dan akhirnya mematikan petani apel lokal.

Menanggapi hal ini, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengibaratkan kondisi ini sebagai sebuah kompetisi yang sudah diatur dalam sistem internasional.

“Saya merasa bahwa ada suatu permasalahan di dalam kompetisi ini. Kita kan menjadi bagian dari suatu sistem internasional,” tegas dia usai Konferensi Pers Realisasi Neraca Perdagangan Januari 2014 di kantornya Jakarta, Selasa  (4/3/2014).

Lutfi menilai, masuknya apel impor ke pasar Indonesia bagaikan sebuah pertandingan. Maklum dalam hitungan bulan, Indonesia harus menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

“Pertandingan ini selalu diatur 11 lawan 11 kalau dalam sepakbola. Mana kesebelasan itu tidak dapat menyalahkan satu dengan yang lainnya,” ucap dia.

Sebelumnya, puluhan petani asal Malang merasa kecewa harga apel yang dijualnya terus merosot karena kalah bersaing dengan serbuan apel impor. Buah andalan kota Malang itu kini hanya dibanderol Rp 2.500 per kilogram (kg).

Sekretaris Asosiasi Hortikultura Nasional (AHN) Ramdansyah menilai merosotnya harga apel Malang juga tak lepas dari campur tangan pemerintah. Menurutnya, pemerintah lebih senang memilih liberalisasi impor produk tanpa memperhatikan keberadaanhasil produksi lokal.

Hal itu terlihat dari terus meningkatnya jumlah apel yang diimpor Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia bakal mengimpor 200.483 ton apel pada semester I 2014, atau naik hampir 140 persen dari realisasi periode yang sama tahun sebelumnya 83.918 ton. (lp6/bh)