Aparat Hukum segera Merestorasi Sistem Peradilan Anak

 

Aparat Hukum segera Merestorasi Sistem Peradilan Anak

Perkara pidana yang melibatkan pelaku anak-anak setiap tahun terus bertambah. Seperti data yang ada dalam semester pertama tahun 2014 ini, terdapat 37 kasus naik dibanding tahun lalu yang hanya 30 kasus.

Menghadapi hal ini, Kejaksaan Tinggi dan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya sepakat akan menerapkan restorasi sistem peradilan anak dengan diversi atau mediasi agar kasus yang masuk ke ranah peradilan diharapkan akan jauh berkurang. Diversi ini merujuk pada Undang-Undang No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak.

Ketua Pengadilan Negeri (PN) Surabaya Hery Supriyono mengatakan setuju dengan diversi tersebut, namun tidak semua kasus bisa diselesaikan dengan cara mediasi. Anak yang terlibat kasus berat, seperti pembunuhan dan narkoba, tetap bisa diajukan ke persidangan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

“Kalau untuk kasus yang kecil bisa diperlakukan seperti itu. Namun untuk kasus yang berat tetap disidangkan di pengadilan,” katanya.

Dia memaparkan, diversi diberlakukan sebagai upaya melakukan perlindungan terhadap anak. Pelaku kriminalitas yang melibatkan anak-anak sebagai pelaku disediakan ruang mediasi oleh penyidik kepolisian dan kejaksaan. “Tapi kalau kasusnya berat seperti pembunuhan, apa iya keluarga korban bisa menerima,” ujarnya mencontohkan.

Disambungnya anak terlibat kasus yang masuk dalam kategori bisa ditangani melalui mediasi ini adalah anak berusia di bawah usia 7 tahun. Jika berlanjut ke pengadilan, maka majelis hakim harus mempertimbangkan tiga hal dalam menjatuhkan putusan.

“Pertama, dikembalikan kepada orang tuanya. Kedua, bisa dititipkan ke lembaga anak untuk didampingi dan dibina,” tandas Hery.

Jika kasusnya cukup berat, maka pemidanaan tetap bisa dijatuhkan. “Karena ada anak yang memang harus dihukum agar jera,” paparnya. (wh)