Antispasi Kebakaran Perlu Sertifikasi Keamanan

 

Antispasi Kebakaran Perlu Sertifikasi Keamanan

Setiap bidang profesi seharusnya memiliki sertifikasi keamanan. Ini dibutuhkan untuk mengantisipasi kejadian kebakaran. Hal itu ditegaskan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya Jumat (5/9/2014).

“Khususnya bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) harus dibina, setalah itu dilakukan sertifikasi dari bahaya kebakaran,” kata Kresnayana Yahya.

Menurut dia, pelaku UMKM mulai dari pedagang makanan hingga tukang las banyak yang mengabaikan keselamatan. Dari pengamatannya masih banyak tukang las yang melalaikan bahaya percikan api dari barang yang mudah terbakar.

“Akibatnya sering kita jumpai kebakaran di Surabaya yang diakibatkan kelalaian kerja. Termasuk tidak jarang juga ada kebakaran akibat ledakan LPG di rumah makan atau warung,” bebernya.

Dosen Statistika ITS Surabaya itu menyarankan agar Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) Surabaya bekerja sama dengan instansi terkait untuk melakukan pembinaan pada pelaku UMKM.

“Nantinya secara berkelanjutan potensi kebakaran dapat diminimalisir dengan upaya memberi edukasi kepada masyarakat tersebut,” tambahnya.

Ia juga mengusulkan agar setiap perusahaan di Surabaya memberlakukan safety induction kepada seluruh karyawannya. ”Ini sangat berfungsi jika suatu waktu terjadi kebakaran di dalam gedung. Apa yang harus dilakukan karyawan, mereka harus tahu itu,” terangnya.

Kresnayana menilai, sebenarnya pelatihan simulasi kebakaran harusnya sudah menjadi prosedur tetap keamanan. “Kalau perlu Pemkot Surabaya bisa menjembatani dengan membuat Perda baru. Sehingga nanti Pemkot dan perusahaan saling bersinergi,” sarannya.

Dia lalu mencontohkan dengan apa yang dilakukan ITS saat menggelar acara wisuda. “Sebelum dimulainya acara wisuda, peserta wisuda diwajibkan mengikuti simulasi kebakaran selama lima menit. Ini sudah menjadi prosedur tetap kampus,” akunya.

Menanggapi saran baik itu, Kepala Dinas PMK Surabaya, Chandra Oratmangun mengaku sudah melakukan sosialisasi kepada seluruh kecamatan pentingnya mencegah terjadinya kebakaran.

“Meskipun itu tidak simulai, tapi kami selalu berpesan kepada warga agar sering melakukan kerja bakti. Ini akan membentuk mental ke-gotong-royongan warga saat terjadi bencana,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga mengimbau agar warga tidak membakar sampah dan menyalakan petasan di rumah. Selain itu, warga juga diharapkan tidak membuang putung rokok sembarangan.

“Kalau terjadi kebakaran segera melaporkan ke PMK terdekat. Dan memutus instalasi kabel listrik. Andalkan kegotong-royongan untuk menyelamatkan warga,” pesannya. (wh)