Antara Rindu dan Cemas, Lancar Lalu Lintas

Antara Rindu dan Cemas, Lancar Lalu Lintas

Ilustrasi foto: dimins.com

Unung Istopo Hartanto, peneliti senior enciety Business Consult

Rasanya tak lengkap berkendara tanpa mendengarkan info kondisi lalu lintas dan kepadatan melalui radio atau cek live di aplikasi peta online. Bahkan banyak yang melakukan keduanya bersamaan. Hal ini karena kepastian datang tepat waktu, bagi banyak orang merupakan bentuk komitmen dalam berhubungan. Baik itu personal maupun bisnis. Sehingga tak ayal apabila terjadi kemacetan akan menimbulkan kepanikan.

Kelancaran lalu lintas dalam kota masih menempati urutan ketiga terbawah dari 16 dimensi kepuasan warga kota Surabaya. Sejak lima tahun terakhir. Tingkat kepuasan bukan berarti buruk. Tingkat kepuasan selalu naik tajam dari 53,33 persen di tahun 2015 menjadi 80,89 persen di 2019. Kepuasan yang diukur di masa sebelum pandemi.

Situasi berubah saat keputusan pengetatan mobilisasi di masa pandemi untuk mengurangi penyebaran virus di tahun 2020. Jalan tampak lengang. Suasana sangat sepi. Kota nampak “kurang hidup”. Ada bagian yang hilang dari ciri khas metropolis yang kuat, yang tumbuh dari sektor jasa dan perdagangan.

Berperan sebagai kebutuhan turunan, menjadikan transportasi sangat bergantung pada pergerakan orang dan barang. Pergerakan yang menggambarkan kondisi ekonomi suatu wilayah.

Perubahan lokasi gudang dan bisnis, penambahan atau perubahan jalan baru akan berakibat pada peta indeks aksesibilitas. Menariknya, hal ini juga akan mengubah struktur ekonomi di suatu wilayah.

Pengembangan transportasi di manapun akan memiliki alur cerita dan berdampak pada lingkungan, sejarah, transformasi teknologi dan perspektif ekonomi. Dorongan perubahan timbal balik antara moda transportasi dan infrastruktur terus berkembang mulai dari pengiriman tradisional (mengurangi kelangkaan barang), inovasi gudang, distribusi dan cargo (efisiensi ekonomi) hingga memberikan nilai tambah pada rantai pasok.

Akhirnya, kelancaran lalu lintas adalah sebuah harapan. Harapan dari ketepatan perencanaan, kepastian dalam distribusi, pengurangan biaya (minimum cost) dengan memberikan hasil (outcome) yang maksimal.

Di sisi lain, kepadatan adalah indikator awal mulai bergeraknya kembali ekonomi. Ada titik bangkitan baru yang timbul. Interaksi yang hubungkan ekonomi produksi dan konsumsi bertemu. Ya, distribusi dan logistik.

Tetapi, perencana kota harus tetap memperkuat riset. Memastikan ekonomi tumbuh dan lalu lintas lancar. Kondisi ideal yang tidak mudah. Perencana patut memahami antara kebutuhan jalan, pertumbuhan jumlah kendaraan, kesiapan transportasi umum serta pergerakan titik ekonomi baru.

Tentunya sudah memperhatikan kapabilitas, kemampuan anggaran dan hasil yang akan dinikmati. Sehingga kepuasan warga kota bukan hanya bertambah, tetapi kualitas hidup juga makin baik. Salam. (*)