Antam Bukukan Penjualan Rp 9,46 Triliun

Gedung ANTAM
PT Aneka Tambang Tbk (Antam) membukukan penjualan sebessar Rp 9,46 triliun pada 2014. Capaian ini turun 16 persen dibanding realisasi tahun sebelumnya Rp 11,29 triliun. Penurunan penjualan akibat penurunan harga komoditas nikel dan emas di pasar global. Penurunan penjualan juga dipicu atas kebijakan pemerintah untuk melarang ekspor bijih mineral mentah. Penjualan emas masih menjadi kontributor utama pendapatan perseroan dengan nilai Rp 3,65 triliun atau naik 47 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. “Kebijakan pelarangan ekspor bijih mineral mentah membuat produksi bijih nikel perseroan turun drastis hingga 90 persen selama2014, dibandingkan periode sama tahun 2013. Produksi bijih nikel tersebut hanya digunakan untuk keperluan umpan bijih pabrik,” tulis manajemen Antam melalui penjelasan resmi di Jakarta, akhir pekan lalu.
Volume produksi emas Antam tahun lalu mencapai 2.335 kg atau turun 9 persen dari realisasi tahun 2013. Hal ini disebabkan penurunan kadar bijih emas yang ditambang dari tambang Pongkor maupun Cibaliung. Meski produksi turun, manajemen menyebutkan, volume penjualan emas justru naik 6 persen menjadi 9.978 kg. Kenaikan ini membuat kontribusi penjualan emas meningkat terhadap total pendapatan perseroan tahun lalu.
Tahun 2014, Antam eksplorasi emas di prospek tambang Batangasai, Jambi, Air Niru, Bengkulu, Pongkor, dan Papandayan, Jawa Barat. Eksplorasi di Batangasai bertujuan untuk melokalisasi penyebaran mineralisasi vein system. Sedangkan kegiatan di Pongkor meliputi pemetaan geologi, percontoan batuan dan core, serta pengukuran lintasan dan pemboran.
Direktur Utama Antam Tato Miraza sebelumnya mengatakan, Antam berpotensi mengucurkan dana investasi hingga sebesar Rp 25,7 triliun untuk membiayai sejumlah proyek utama. Dalam lima tahun terakhir, perseroan telah menghabiskan dana sebesar Rp 15 triliun. Tahun ini, perseroan bakal memperoleh dana ekspansi sebesar Rp 10,7 triliun dari hasil penawaran umum terbatas saham (rights issue). (bst)