Andalan Ekspor Nasional, Pemerintah Harus Lawan Kampanye Negatif Sawit

Andalan Ekspor Nasional, Pemerintah Harus Lawan Kampanye Negatif Sawit

foto: kemenperin.go.id

Industri sawit telah menjadi komoditas unggulan yang memberi kontribusi penghasilan cukup besar bagi negara. Perlu ada langkah-langkah untuk melindungi komoditas ini dari serangan  negara-negara  penghasil  minyak non sawit yang banyak dilakukan sejumlah negara Eropa.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono mengatakan, industri sawit sangat penting bagi Indonesia karena memberikan peran yang signifikan terhadap perekonomian nasional.

“Industri ini telah memberi kesejahteraan bagi  petani. Daerah yang menghasilkan sawit pertumbuhan ekonominnya biasanya lebih tinggi dibanding daerah non penghasil sawit,” ujar Joko kepada pers di Jakarta.

Selain itu, tambahnya, industri ini memberikan sumbangan terhadap devisa negara yang cukup besar. Tahun 2015 nilai ekspornya mencapai USD 18,5 miliar. Ada penurunan peneriman devisa dari industri sawit tahun lalu. Padahal biasanya sebesar USD 20-21 miliar tiap tahun

Data Badan Pusat Statistik (BPS)  mencatat  ekspor minyak sawit telah memberi kontribusi  dalam ekspor non migas. “Minyak sawit is the biggest contibutor ekspor non migas, pasca masa jaya batubara terpuruk pada beberapa tahun terakhir.  Jadi sawit tidak hanya terbesar penyumbang ekspor non migas dan terbesar ekspor Indonesia saat ini,” tutur Joko.

Namun,  tantangan ke depan  adalah bagaimana industri  sawit  bisa melawan kampanye anti sawit yang sengaja dihembukan kelompok tertentu.

“Industri sawit kerap dituduh merusak lingkungan, deforestasi, penyumbang emisi gas rumah kaca, biodiversity dan konflik sosial,” tambahnya.

Menurutnya, dibalik genjarnya kampanye negatif sawit adalah kepentingan bisnis global. Akar masalahnya adalah  perang dagang dari negara-negara maju.  “Diplomasi  harus dilakukan untuk melawannya. Kami selalu mendorong kepada pemerintah membangun Indonesia incorporated. Tujuannya agar para stakeholder kompak,” harapnya.

“Ada kepentingan bisnis yang besar dan akhirnya kampanye menjadi alat untuk menghancurkan industri sawit. Untuk itu, kampanye positif dan promosi juga harus tetap dilakukan terhadap sawit Indonesia,” paparnya.(wh)