Anak Usaha BUMN PTPN X Ekspor Buncis ke Jepang

FRESH: Hasil lahan Mitratani Dua Tujuh yang mengekspor sayuran buncis ke Jepang. PTPNX
FRESH: Hasil lahan Mitratani Dua Tujuh yang mengekspor sayuran buncis ke Jepang. PTPNX

PT Perkebunan Nusantara X (Persero) atau PTPN X melalui anak usahanya, PT Mitratani Dua Tujuh, mengekspor sayuran buncis ke Jepang. Aksi korporasi ini melengkapi ekspor yang telah dilakukan oleh anak usaha BUMN perkebunan tersebut sebelumnya, yaitu ekspor kedelai edamame serta okra ke Jepang, Eropa, dan sejumlah negara lain di Timur Tengah. Melalui anak usaha lainnya PT Energi Agro Nusantara, PTPN X juga telah mengekspor bioetanol ke Filipina.

Direktur Mitratani Wasis Pramono mengatakan, pihaknya sudah melakukan riset pengembangan tanaman buncis dalam setahun terakhir. Sejumlah varietas coba dikembangkan sembari memetakan kebutuhan pasar ekspor, ter di Jepang yang mempunyai permintaan tinggi terhadap makanan sehat.

”Pasar Jepang sudah melihat sampel komoditas buncis kami. Sudah cocok. Higienitasnya sesuai standard Jepang yang sangat tinggi,” kata Wasis, Rabu (6/8/2014).

Pada tahap awal, dari hasil riset pengembangan, Mitratani melakukan panen perdana lebih dari 80 ton buncis dan langsung diekspor ke Jepang mulai September 2014.

Wasis mengatakan, karena sampel kualitas komoditas sudah diterima sejumlah mitra di Jepang, pemasaran buncis akan lebih mudah. “Kalau sudah standardnya diterima, permintaan akan lebih tinggi. Prinsipnya, pihak Jepang siap menerima berapa pun jumlah produksi buncis kami. Buncis akan menjadi salah satu andalan diversifikasi produk ekspor kami yang selama ini banyak didominasi produk edamame dan okra,” ujar Wasis.

Mitratani sendiri selama ini dikenal sebagai produsen sayuran beku untuk ekspor. Komoditas yang dihasilkan adalah kedelai edamame, mukimame, edatski, dan okra. Sekitar 80 persen produk ekspor perusahaan terkonsentrasi ke Jepang. Tahun ini, Mitratani menargetkan ekspor sekitar 6.700 ton produk edamame. Adapun ekspor komoditas okra ditargetkan 1.500 ton. Perusahaan membidik pendapatan Rp 130 miliar pada tahun ini.

”Saat ini kami menggarap lahan seluas 1.100 hektar di Jember dan Bondowoso, Jawa Timur,” kata Wasis.

Dia mengatakan, pihaknya mempunyai 22 mitra konsumen besar di Jepang yang secara rutin membeli banyak komoditas dari Mitratani. Para mitra itu terdiri atas produsen makanan olahan, distributor ritel modern, hingga penyuplai makanan untuk hotel dan restoran mewah di Jepang.

Untuk pengembangan, selain buncis, Mitratani tengah mengembangkan komoditas talas jepang (satoimo/colocasia esculenta) dan ketela rambat varietas beniazuma yang akan diekspor ke Jepang. ”Sudah kami uji coba tanam dan sudah survei pasar di Jepang. Prospeknya bagus,” kata Wasis.

Perkuat Pasar Lokal

Selain menggenjot ekspor, pasar lokal juga mulai diperkuat Mitratani. Di antaranya melalui jaringan ritel modern. Setiap pekan, sekitar 800 kilogram kedelai edamame Mitratani didistribusikan ke jaringan ritel modern Seven Eleven yang mempunyai 140 outlet di sejumlah kota besar.

”Kami juga sudah suplai ke jaringan ritel modern lainnya melalui distributor. Saat ini kami punya sekitar 20 mitra konsumen besar di Indonesia,” jelasnya.

Untuk pasar lokal, tambah Wasis, penjualan edamame ditargetkan mencapai 1.000 ton pada tahun ini, naik dari tahun lalu sebesar 623 ton. ”Fokus kami memang masih ke ekspor karena permintaan sayuran dengan standard bagus memang tinggi di luar negeri,” kata dia.

Mitratani juga memproduksi 39 produk bumbu dan sayur siap saji, mulai dari bumbu rendang, sup, cap cay, perkedel, hingga bumbu sambal goreng. Bumbu dan sayur beku itu khusus dipasarkan ke perusahaan pertambangan yang terletak di pedalaman dan lepas pantai untuk konsumsi ribuan karyawannya. ”Untuk bumbu dan sayur siap saji ini kami rutin menyuplai ke PT Freeport Indonesia. Pesanan ke lokasi pertambangan Freeport bisa mencapai ratusan ton. Tahun lalu nilai pesanannya Rp 11 miliar,” ujarnya. (wh)