Anak-Anak Zaman

Anak-Anak Zaman

Rr. Immul Muttakhidah (roro.immamul@gmail.com)

Siapa yang dapat mengetahui batas kehidupan manusia? Sementara tiap sepersekian detik jutaan jiwa lahir di bumi ini. Dunia tidak akan berhenti berubah. Yang usang dibaharui, yang lambat dipercepat. Yang mati digantikan yang hidup. Dan semua itu dimulai dari cara kita berpikir dan perspektif kita terhadap perubahan akan kehidupan yang terus berkembang.

Siapa yang berhenti pasti mati. Siapa yang lambat pasti tergilas oleh roda yang terus berputar. Oleh karena itu, belajar sebagai sarana untuk memahami perubahan yang terjadi, hendaknya jangan ditinggalkan.

Begitu juga dengan teori-teori yang mashur terdengar di telinga kita, jangan ditelan mentah. Sudah saatnya menelaah satu per satu, mungkin kita bisa seperti si hebat Galileo yang berhasil lepas dari sandaran keilmuan Aristoteles.

Embrio yang terbentuk dari Pikiran

Pandangan epistemologi yang terbentuk pada abad ke-17 mengungkapkan teori yang banyak dipengaruhi oleh John Locke tentang “tabula rasa” (bahasa Latin kertas kosong) bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan, dengan kata lain “kosong”, dan seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat inderanya terhadap dunia diluar dirinya. Hingga kini, anggapan ini terus berkembang dan menjadi pijakan empiris dalam memandang anak didik.

Dalam filosofi Lockean, tabula rasa adalah teori bahwa pikiran (manusia) ketika lahir berupa “kertas kosong” membuat kita membayangkan benda statis (kertas) yang dapat kita (termasuk lingkungan) tulis dengan tinta di atasnya. Metafor tersebut memudahkan, namun bila ditelisik dari sudut pandang kognitif manusia juga dapat dibilang menyesatkan.

Konsepsi Piaget tentang hakikat konstruktivis dari kecerdasan dan faktor-faktor esensial tentang perkembangan kognitif dengan pelevelan usia berdasarkan kematangan fisik dan psikis tertentu (tahap pra-operasional sampai tahap operasional formal), telah banyak menjadi acuan dalam berbagai penelitian pendidikan.

Piaget berpendapat terlalu kaku bahwa anak-anak menggunakan konsep atau kerangka yang eksis di dalam pikiran individu yang dipakai untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi yang mereka peroleh dari lingkungan (red. Skema). Konsepsi ini diketahui mempunyai banyak kekurangan di kemudian hari, seperti diungkapkan dalam hasil penelitian Flavell (isu horisontal decalage). Secara tidak langsung, hal ini juga dikuatkan dengan hasil penelitian Gelman yang menunjukkan bahwa  anak  sudah  memiliki kemampuan mengenal angka sejak dini bahkan sebelum usia sekolah (Gelman & Gallistel, 1978 dan Sophian,  1996; Wynn, 1995 dalam Butterworth, 1999).

Bahkan, Butterworth  (1999) mengasumsikan bahwa setiap anak mempunyai modul angka (Number Module) yang ada sejak lahir secara biologis dan terletak di otak. Jadi secara umum, tampaknya semua anak mempunyai kapasitas given sejak lahir (innate) yang kurang lebih sama dalam mengenal angka yang sifatnya biologis, walaupun tentu saja pasti ada variasi individual disana-sini.

Dengan kata lain, meskipun penelitian masih terbatas dan diterima secara substantif pada bidang matematika, dasar ini dapat meluruskan pandangan pendidik mengenai anak bahwa sejak lahir mereka bukanlah “kertas putih” tabula rasa yang statis.

Seiring perkembangan keilmuan di bidang psikologi pendidikan, neurosains dan filsafat pendidikan. Hasil eksperimen Gardner dan kawan-kawan (1985) melahirkan bibit baru faham kognitivisme sebagai sebuah paradigma yang mengarahkan kita untuk mengenali, memahami dan menggunakan cara yang tepat untuk membangun pengetahuan yang sesuai dengan level usia dan mental seseorang.

Studi kognitif lebih menekankan pada bagaimana individu memperoleh informasi, mengolah, menyimpan dan mensintesis pengetahuan (mengkonstruk) serta menggunakannya untuk memecahkan masalah dengan pengetahuan (informasi) yang dimilikinya tanpa mengabaikan skema bawaan sejak lahir.

Jika demikian, sifat air yang dinamis, menempati ruang dan mengalir dari tempat tertinggi ketempat terendah, mungkin lebih tepat daripada metafora kertas putih yang hampa. Dengan penalaran filsafatis, selain Tuhan, tidak ada yang mampu membendung aliran air yang terus menerus turun kebawah, ke titik terendah.

Karena pada dasarnya, tempat tertinggi bukan milik kita. Tugas kita adalah “mengairi” kehidupan disekitar dan yang ada dibawah. Seperti derajat manusia, tidak ditentukan dari seberapa tinggi jabatannya, namun asas ke-manfaatannya kepada sesama. Aras air diatas gunung terlalu sulit dijangkau sang lembah. Disisi lain, laut sebagai muara air terluas dalam arti ekosistem manusia yang tidak berhenti akan selalu siap menyokong kehidupan makhluk didaratan dan didalam tubuh laut sendiri.

Begitulah yang saya pikirkan untuk mengarahkan pada “metafora” yang lebih tepat sebagai sebuah pandangan dalam mendidik anak. Pendidikan yang mengarahkan untuk memanusiakan manusia (psikologis) dan memberi kontribusi positif pada peserta didik untuk mencapai kesadaran tertinggi akan kehidupan yang dinamis (lingkungan yang terus berubah), mendalam dan kompleks, baik dalam skala kecil keluarga, masyarakat maupun institusi pendidikan formal. Maka, bangunan pendidikan sebagai pondasi menara air akan mewujudkan cita-cita pendidikan yang ideal sebagai solusi kehidupan manusia. Meskipun begitu, kerangka kerja organisasional akan lebih detail untuk memudahkan memahami proses yang sesungguhnya.

Jika kita berusaha meneteskan tinta hijau pada air yang jernih, maka seketika ia bisa berubah berwarna hijau. Meskipun nanti akan timbul pula gradasi warna hijau muda, hijau tua, dan variasi “warna” lainnya. Sementara kita membiarkan air mengalir, membuat kemungkinan ia menerima warna lain dari lingkungan, seperti merah, kuning, hitam bahkan hijau lagi.

Meninjau ulang filosofi Locke mengenai “kertas kosong”, saya berpikir mengenai air jernih yang ditempatkan pada wadah biru sebagai perumpamaan anak yang baru lahir, adalah akibat biologis, ruang gerak dari sugesti dan pola pikir (kognisi) orangtua, sudah ada pada wadah warna biru. Maka yang direkognisi anak sejak awal adalah warna biru, tanpa disadari sebenarnya ia –belum-menjadi biru.

Namun, ketika seorang anak sudah mampu melakukan interaksi sosial dengan alam dan lingkungan, dari situlah air dalam wadah dialirkan dalam sungai kehidupan. Siapapun dan apapun bercampur, mengalami hambatan atau mengalir dengan deras sesuai laju.  Maka “kertas kosong” yang statis tidak akan mampu berproses dan membuat kebaruan (innovate) warna sebagaimana “air jernih” yang mengalir secara dinamis.

“Anak kita bukanlah anak kita, mereka adalah anak-anak zaman.”

Dalam tulisan ini, tidak ada unsur “menyepak ke pinggir” sebuah gagasan filosofis yang sudah turun-temurun. Pada akhirnya, saya hanya ingin mengungkapkan bahwa tugas pendidik bukan menulis di kertas putih, tapi konsensi untuk meneteskan tinta dan bersama-sama lingkungan membangun menara air untuk kehidupan alam dan manusia. (*)

*Akademisi, tinggal di Bengkulu