Anak-Anak Pengungsi Gunung Kelud Mulai Sekolah

Anak-Anak Pengungsi Gunung Kelud Mulai Sekolah
Anak-anak pengungsi Gunung Kelud saat belajar di sekolah darurat.umar alif/enciety.co

 

Aktivitas belajar mulai dirasakan warga pengungsi letusan Gunung Kelud. Seperti yang terlihat di Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Puluhan anak kembali bersekolah usai sekolahnya diliburkan dua hari pada Jumat-Sabtu (14-15/2/2014) lalu.

Mereka tidak bisa lagi bersekolah di tempat asalnya, karena masih rusaknya beberapa fasilitas sekolah yang belum diperbaiki. Mereka kini diberi pelajaran puluhan relawan dari Forum Komunitas Guru Pro Reformasi (FKGPR) Blitar.

Kepala FKGPR Nur Zani yang juga menjadi pengajar di SMP Islam Al Kholili Al Khasani di Desa Sukorame, Kecamatan Binangun, Blitar mengatakan, dirinya bersama kelompoknya prihatin dengan keadaan anak-anak yang berada di pengungsian.

“Takutnya mereka tidak belajar dan akan ketinggalan pelajaran di sekolah akibat sekolahnya diliburkan,” katanya, Senin (17/2/2014).

Dengan membawa 39 anggota FKGPR, mereka membaginya menjadi dua kelompok. Yang pertama adalah petugas relawan untuk memberikan pengajaran di sekolah sebanyak 9 orang guru, dan 30 guru lainnya melakukan aksi bersih-bersih di sekolah yang rusak.

“Kami tergerak untuk mengajari mereka pada hari ini, nanti bila dibutuhkan kembali tentu akan dilanjutkan kembali,” ujar Zaini.

Para anak-anak pengungsi tersebut diajari untuk melupakan penderitaan mereka yang berpisah sementara waktu dengan rumah dan sekolahnya.

Mereka lebih banyak diajari bernyanyi dan bermain tebak-tebakan. Bila bisa menjawab pertanyaan dari guru relawan tersebut akan diberi hadiah.

“Sebisa mungkin anak-anak tersebut diberikan pelajaran agar sedikit melupakan hidupnya yang berada di penampungan ini,” kata Zaini.

Kholili Indro salah satu anak pengungsi yang belajar di kelas darurat tersebut mengaku gembira dengan adanya pelajaran kali ini.

“Bosan hidup disini. Kepinginnya kembali di rumah agar dapat belajar seperti biasa di sekolah dan mengaji di surau kampung,”cetus dia. (wh)