Alumnus S2 Universitas Indonesia Minta Disuntik Mati

Disuntik Mati, Ignatius Ryan Tumiwa, S2, Universitas Indonesia

Ignatius Ryan Tumiwa (48), alumnus Pasca Sarjana Universitas Indonesia (UI), ingin disuntik mati. Untuk memperkuat niatannya tersebut, jebolan S2 Ilmu Adminitrasi tahun 1998 ini mengajukan judicall review ke Mahkamah  Konstitusi. Pasalnya, UU  melarang suntik mati atau euthanasia.  Keinginan suntik mati ini didorong oleh  lilitan kemiskinan yang membelitnya. Apalagi, dia selama ini hidup sebatang kara.

Menarik, semasa kuliah, Ryan termasuk mahasiswa yang berotak cemerlang. Saat lulus dari pasca sarjana Universitas Indonesia (UI) memiliki nilai indeks prestasi komulatif (IPK) 3,37. Hal itu dibuktikannya dengan menunjukkan foto copy ijazah serta fotocopy nilainya saat kuliah di UI.

Dalam ijazahnya itu, pria yang mengenakan baju coklat akibat debu yang menempel karena jarang dicuci tersebut, lulus pasca sarjana pada 11 Agustus 1988. Dirinya memiliki nomor mahasiswa 3995242456.

Nilai mata kuliah yang dimilikinya selama berkuliah S2 tersebut rata-rata bernilai A. Nilai B hanya beberapa saja, paling kecil B-. Menurut Ryan, ia saat itu berkuliah S2 sambil bekerja di salah satu perusahaan sebagai seorang auditor.  “Saya bekerja sambil kuliah S2. Tapi lumayan nilainya cukup baik,” kata anak bungsu dari 4 bersaudara itu.

Saat ditanyai terkait ke mana ijazah asli miliknya, ia mengatakan tak punya uang untuk mengambilnya kembali setelah ditaruh di deposit box sebuah bank. “Waktu itu saya taruh di deposit box, supaya aman kalau sewaktu-waktu ada kebakaran,” ucapnya.

Lanjut Ryan, dirinya juga masih mempunyai beberapa uang hasil tabungannya selama ia bekerja sejak 1998. “Masih ada tabungan saya biarpun sedikit, bisa buat beli biskuit,” pungkasnya.

Pria pendiam ini belum lama ini dikenal masyarakat karena menggugat ke Mahkamah Konstitusi agar lembaga peradilan UNdang-Undang tersebut mengabulkan tuntutannya yaitu memperbolehkan suntik mati. (kmp/ram)