Alokasi Belanja Ngawur, Utang RI Menumpuk

Alokasi Belanja Ngawur, Utang RI Menumpuk

 

Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia berada di posisi USD 264,1 miliar pada Desember 2013. Utang luar negeri Indonesia melambat dibanding pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 12 persen secara year-on-year (yoy).

“Utang tersebut sudah dalam taraf hati-hati. Saat ini kondisi ekonomi Indonesia masih cukup kuat menahan utang tersebut. Sekarang sedikit tertolong karena GDP (gross domestic product) tinggi, tapi kalau nilai tukar ambles itu bisa sampai 100 persen nambahnya,” terang Menurut Anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Didik J Rachbini di Jakarta, Selasa (25/2/2014).

Didik menilai, posisi utang sudah memasuki lampu kuning. Karenanya, pemerintah tidak boleh lagi mematok defisit yang terlalu besar, dengan demikian, maka penerbitan obligasi dapat ditekan.

“APBN harus efisien, sekarang tidak efisien, belanja ngawur, alokasi ngawur,” ujar dia.

Di sisi lain, dia melihat kondisi Rupiah terlalu sensitif terhadap pasar. Karenanya, Rupiah tidak serta merta dapat didorong menguat. “Nilai tukar tidak bisa ekstrem menguat 20 persen, tapi kalau ekonomi bagus itu kan malah naik,” tandas Didik.

Sekadar informasi, melihat tren tahunannya, utang luar negeri naik sebesar 4,6 persen dibandingkan utang luar negeri periode Desember 2012. Meski naik, Direktur Eksekutif Departemen Statistik BI, Hendy Sulistiowaty, mengatakan utang luar negeri ini melambat dibanding pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 12 persen secara year-on-year (YOY).

Untuk sektor swasta utang luar negeri mengalami pertumbuhan 11,3 persen secara yoy, dari 6,3 persen secara yoy dan 18,3 persen secara yoy di tahun sebelumnya.

Total utang paling banyak di kontribusi adalah utang jangka panjang mencapai USD116,8 miliar. Melambat jika dibandingkan 2012, yang kala itu mencapai 11,2 persen. Sementara utang jangka pendek memiliki porsi 17,9 persen dari total keseluruhan utang luar negeri Indonesia. (okz/wh)