Aljazair Bisa Menyulitkan Jerman

 

Aljazair Bisa Menyulitkan Jerman

Setelah Belanda memastikan lolos ke perempat final Piala Dunia 2014, Selasa (1/7/2014) dinihari WIB nanti, Jerman akan menjadi tim Eropa kedua yang akan mengadu nasib. Der Panzer akan menghadapai Aljazair  di Stadion Beira-Rio, Porto Alegre. Laga ini akan disiarkan langsung ANTV dan TV One mulai pukul 02.30 WIB.

Meski kalah mentereng, Aljazair bisa mneyulitkan langkah Jerman ke babak berikutnya.  Jerman, kebetulan miliki catatan buruk kalah  berhadapan dengan tim Rubah Gurun ini. Dalam dua kali pertemuan, Jerman selalu kalah.

Jerman pertama kali bertemu Aljazair dalam partai uji coba Januari 1964. Dalam pertandingan di Stadion Omar Hammadi, Algier itu mereka menyerah 0-2.

Namun partai yang ramai menjadi perbincangan tentunya adalah pertemuan kedua tim di putaran final Piala Dunia 1982 di Spanyol. Dalam pertandingan pembukaan Grup 2 di Gijon, Jerman menyerah 1-2.

Padahal tim ini diperkuat pemain-pemain kelas dunia macam kiper Harald Schumacher, Paul Breitner, Feliz Magath, Karl Heinz Rummenigge dan dua tahun sebelumnya sukses memboyong gelar juara Eropa.

Dua gol yang dicetak Rabah Madjer dan Lakhdar Belloumi membungkam pendukung Jerman di Stadion El Molinon. Jerman sempat menyamakan skor menjadi 1-1 yang dicetak Rummenige.

Persaingan di Grup 2 ini kemudian menjadi terkenal karena di pertandingan terakhir Austria diduga sengaja menyerah kepada Jerman untuk menyingkirkan Aljazair. Partai ini kemudian dikenal dengan julukan “Disgrace of Gijon”.

Jerman, Austria, dan Aljazair sama-sama memetik nilai empat, namun “Rubah Gurun” tersingkir karena kalah selisih gol. Di sinilah pemicu anggapan bahwa pertemuan di Porto Alegre nanti akan menjadi ajang balas dendam bagi Aljazair untuk menghentikan Jerman. Jika tahun 1982 lalu, mereka yang disingkirkan lewat “main mata” Jerman dan Austria, maka kini saatnya bagi mereka untuk menjungkalkan “Tim Panser”.

Pelatih Aljazair, Vahid Halilhodzic, mengakui kemenangan 32 tahun silam menginspirasi timnya saat ini. “Setelah banyak tim-tim top gugur, Jerman juga bisa saja terhenti. Dan jika tahun 1982, Aljazair bisa mengalahkan Jerman, kenapa sekarang tidak?” ujar pelatih berkebangsaan Bosnia-Herzegovina ini.

“Kalau kami kalah, kami akan mengucapkan selamat kepada mereka karena mereka lebih baik dan jika kami kalah, maka semua orang akan lebih menghargai lagi tim Aljazair,” paparnya.

Sementara pelatih Jerman, Joachim Loew, menepis anggapan jika pertandingan kali ini akan menjadi ajang bagi Aljazair untuk membalas dendam atas tindakan Jerman “main mata” dengan Austria. Apalagi peristiwa itu sudah lama terjadi.

Hanya dua anggota skuat Jerman saat ini, kiper Roman Weidenfeller dan striker veteran Miroslav Klose, yang sudah lahir saat laga tersebut digelar 32 tahun silam. “Mengapa mereka ingin menghukum pemain Jerman generasi saat ini? Saya juga merasa terganggu dengan penggunaan kata ‘balas dendam’,” ujar Loew saat konferensi pers.

“Namun ini mungkin bisa digunakan tim Aljazair untuk meningkatkan motivasi,” papar Loew lagi.

Loew juga menegaskan mereka yang menganggap Jerman mendapat lawan mudah di babak 16 besar ini telah keliru. “Jika Anda lengah, Anda akan keluar. Aljazair tim yang sangat agresif yang rajin berlari dan sangat berbahaya. Pertahanan mereka juga kuat,” kata Loew lagi.

Jerman tampaknya tak akan melakukan banyak perubahan. Tim starter nyaris sama dengan yang diturunkan ketika menundukkan Amerika Serikat di pertandingan terakhir penyisihan Grup G. Hanya Mario Goetze yang kemungkinan bakal kembali menjadi starter setelah dalam laga melawan AS hanya menjadi pemain cadangan dan perannya digantikan Lukas Podolski.

Podolski sendiri tak mungkin bermain dalam pertandingan ini karena mengalami cedera paha. Itu terjadi saat dia memperkuat negaranya dalam pertandingan terakhir babak penyisihan Grup G, melawan Amerika Serikat.

Di kubu Aljazair juga demikian. Hanya akan terjadi satu perubahan dibanding skuat yang menahan imbang Rusia 1-1, 26 Juni lalu. Bek tengah yang juga kapten Madjid Bougherra absen dalam laga tersebut namun bakal kembali turun sejak awal menggantikan Essaid Belkalem, starter dalam laga di Curitiba lalu.

Setelah para pendahulu mereka selalu menorehkan catatan buruk saat melawan Aljazair. Pasukan Jerman generasi terbaru kini bertekad mengubah rekor itu. “Kini saatnya kami mengubah statistik tersebut,” ujar Loew.

Barisan belakang Jerman tentunya harus mewaspadai striker Islam Slimani yang grafiknya terus menanjak akhir-akhir ini. Tempaan Liga Portugal membuatnya kian matang. Dua golnya dalam dua pertandingan terakhir membuktikan hal itu. Dialah mencetak gol penyama skor menjadi 1-1 yang membuat Rusia gagal memetik kemenangan dan tersisih.

Kendala bagi tim Aljazair adalah mereka tengah menjalankan ibadah puasa. Kondisi ini sedikit banyak akan berpengaruh pada kekuatan mereka. Halilhodzic harus mencari cara untuk mengatasi hal ini.

Sebagai tim spesialis turnamen dan pemegang tiga gelar Piala Dunia dan Piala Eropa, Jerman tentunya diunggulkan. Namun kalau pun mereka menang, maka itu tak akan diraih dengan mudah. Akan terjadi duel seru di lapangan tengah.

Empat dari lima pemain tengah yang mungkin diturunkan sebagai starter Aljazair yakni Carl Medjani, Nabil Bentaleb, Sofiane Feghouli, dan Yacine Brahimi, berpengalaman tampil di kompetisi Eropa. Mereka diperkirakan bakal bisa mengimbangi permainan trio lapangan tengah Jerman yang mungkin bakal diisi Bastian Schweinsteiger, Philipp Lahm, dan Toni Kroos.

Formasi 4-3-3 yang diusung pelatih Jerman mengisyaratkan jika mereka bakal menerapkan permainan menyerang. Ini tentu bakal menjadi tugas berat bagi Bougherra dan kawan-kawan di lini belakang Aljazair.  (bst/ram)

 

Perkiraan Susunan Pemain

Jerman (4-3-3):

K: 1. Manuel Neuer

B: 20. Jerome Boateng, 17. Per Mertesacker, 5. Mats Hummels, 4. Benedikt Howedes

T: 7. Bastian Schweinsteiger, 16. Philipp Lahm, 18. Toni Kroos

D: 8. Mesut Ozil, 13. Thomas Muller, 19. Mario Goetze

Pelatih: Joachim Loew

Aljazair (4-2-3-1):

K: 23. Rais M’Bolhi

B: 20. Aissa Mandi, 5. Rafik Halliche, 2. Madjid Bougherra, 6. Djamel Mesbah

T: 12. Carl Medjani, 14. Nabil Bentaleb

T: 10. Sofiane Feghouli, 11. Yacine Brahimi, 18. Abdelmoumene Djabou

D: 13. Islam Slimani

Pelatih: Vahid Halilhodzic

 

Stadion: Beira-Rio, Porto Alegre

Wasit: Sandro Ricci (Brasil)