Akibat Pemalsuan, Indonesia Merugi Rp 65,1 Triliun

Akibat Pemalsual, Indonesia Merugi Rp 65,1 Triliun

Indonesia yang terus dibombardir oleh barang-barang palsu dari luar negeri membuat negara ini dirugikan mencapai Rp 65,1 triliun. Jumlah ini meningkat dari tahun 2010 yang kerugiannya masih berada di kisaran Rp 43,2 triliun.

Dari hasil survei tercatat komoditas yang sering dipalsukan, meliputi  tinta printer (49,4 persen ), pakaian (38,9 persen), barang dari kulit (37,2 persen), piranti lunak  (33,5 persen), kosmetik (12,6 persen), makanan dan minuman (8,5 persen), dan produk farmasi (3,8 persen).

Nilai tersebut diambil berdasarkan survey yang dilakukan oleh dua lembaga yaitu Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan Indonesia dan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sekretaris Jenderal Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) Justisiari P Kusumah mengatakan pemalsuan barang tetap menjadi ancaman bagi negara Indonesia.

“Potensi kerugian akibat pemalsuan barang melonjak berlipat. Ini yang harus diwaspadai oleh semuanya baik pemerintahan maupun masyarakat Indonesia sendiri,” kata Justisiari kepada wartawan, Kamis (2/7/2015).

Pihaknya berharap agar pemerintah terus bekerja sama dengan pemangku kepentingan lainnya untuk menggalakkan kampanye peduli asli.

Senada dengan Justisiari, Direktur Kerjasama dan Promosi Dirjen HKI Kemenkumham Parlagutan Lubis mengatakan sosialisasi bahaya menggunakan produk palsu  ditekankan kepada kerugian yang bisa dialami jika menggunakan barang palsu.

“Bila masyarakat menggunakan suku cadang kendaraan yang palsu. Itu kan bisa merusak kendaraan dan berpotensi mengakibatkan kecelakaan bagi si pengendara. Ini yang harus selalu kita tekankan,” ujar Parlagutan.

Sayangnya produsen dari Jepang jarang melaporkan bahwa produknya dipalsukan. “Itulah yang membuat kami kesulitan dalam memberantas produk palsu bila tidak ada laporan ke kami,” tukas Parlagutan. (wh)