Akibat Bom, Jumlah Mahasiswa Organisasi Pariwisata Asia Pasifik ke Surabaya Turun

Akibat Bom, Jumlah Mahasiswa Organisasi Pariwisata Asia Pasifik ke Surabaya Turun
Mahasiswa yang tergabung TPO saat belajar buat klepon di gedung Merah Putih Balai Pemuda. Sandhi nurhartanto/enciety.co

Kasus bom Jakarta berdampak pada pariwisata di Surabaya. Ini menyusul pemberitahuan terbaru dari Tourism Promotion Organization for Asia Pasifik Cities Student Travel Exchange Project (The TPO STEP) “Culture and Language Immersion Program” (CLIP 2016).

Sedianya, dari 60 mahasiswa yang tergabung dalam Organisasi Pariwisata se-Asia Pasifik Program Pemahaman Bahasa dan Budaya yang akan ke Kota Surabaya, ternyata hanya 15 peserta saja. Mereka membatalkan pergi ke Kota Pahlawan ada 45 orang. Alasannya saat akan berangkat ke Indonesia, Jakarta sedang diguncang bom bunuh diri beberapa hari lalu.

“Rencana awal memang 60 peserta. Tetapi mereka membatalkan karena orang tuanya tidak mengizinkan dengan alasan takut anak-anaknya yang berkunjung ke Surabaya jadi korban,” kata Widji, staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Surabaya kepada enciety.co di gedung Merah Putih Balai Pemuda, Selasa (19/1/2016).

Pernyataan Widji ini dibenarkan Kepala Disbudpar Surabaya, Wiwik Widayati “Ke-15 mahasiswa wisatawan tersebut berasal dari China, Malaysia, Korea dan Jepang,” katanya. Wiwik mengakui sektir pariwisata sedikit terpengaruh karena ada kasus di Jakarta lalu.

Dia lalu menceritakan, kota Surabaya yang tergabung dalam TPO sejak 2005 lalu sudah berusaha berkirim surat meminta agar ada wisatawan yang berstatus mahasiswa datang ke Kota Pahlawan.

Di Indonesia, hanya ada tiga kota yang tergabung dalam TPO, yaitu Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. Untuk Surabaya, acara tersebut baru terselenggaran pertama kali.

“Manfaat acara ini sangat besar, karena di dalamnya tidak hanya mengenalkan budaya Surabaya saja. Para peserta diajak membuat makanan khas Suroboyo hingga mengunjungi kampung-kampun tradisional disini,” tandasnya. (wh)