Akhir Tahun, Bisnis Pariwisata Jatim Lesu

Akhir Tahun, Bisnis Pariwisata Jatim Lesu

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, bisnis pariwisata Jatim di akhir tahun ini sedikit lesu. Peningkatannya tidak sedrastis tahun-tahun sebelumnya yang mampu mencapai 50 persen dibanding hari normal.

Kali ini, Asosiasi Tour dan Travel (Asita) Jatim memperkirakan, kenaikannya hanya dikisaran 20-30 persen karena tertekan kondisi ekonomi domestik dan global.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Tour dan Travel (Asita) Jawa Timur Nanik Sutaningtyas mengatakan, melemahnya nilaui tukar rupiah dikisaran Rp 12.000 hingga Rp 12.500 per dolar serta adanya kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) cukup berpengaruh terhadap minat masyarakat untuk berlibur ke berbagai tempat wisata, baik dalam negeri ataupun ke luar negeri di akhir tahun ini.

Pasalnya, dengan tingginya nilai tukar dolar terhadap rupiah, maka biaya berwisata ke luar negeri menjadi melonjak hingga 30 persen lebih. Pastinya kondisi tersebut membuat masyarakat Jatim yang ingin berlibur ke luar negeri berpikir ulang.

“Karena seluruh biaya, mulai dari biaya transportasi pesawat, hotel dan kebutuhan makan seluruhnya kan dihitung dengan dolar. Kalau tahun lalu acuan nilai tukar rupiah terhadap dolar hanya Rp 10.000 hingga Rp 11.000 per dolar, maka sekarang menjadi Rp 12.000 hingga Rp 12.500 per dolar sehingga ongkos menjadi naik signifikan,” kata Nanik Sutaningtyas di Surabaya, Senin (8/12/2014).

Dampaknya, jumlah masyarakat Jatim yang berlibur ke luar negeri juga turun drastis dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kenaikan jumlah pelancong Jatim ke luar negeri diakhir tahun mencapai 30% lebih, maka saat ini hanya mampu tumbuh 10-20 persen dibanding hari biasa. Adapun negara yang menjadi tujuan wisata terbesar adalah Korea dan Jepang. Hal ini dipicu oleh melekatnya budaya Korea dan Jepang akibat tayangan dari Televisi.

“Kalau India sebenarnya banyak juga yang ingin kesana, tetapi kondisi India tidak seaman Jepang. Selain itu, untuk memperoleh paspor ke Jepang juga cukup mudah, makanya banyak yang memilih berlibur kesana,” tekannya.

Sementara untuk wisata dalam negeri atau domestik juga cukup terpengaruh terhadap kenaikan harga BBM beberapa waktu yang lalu. Ongkos transportasi dan jasa lainnya serta bahan kebutuhan semuanya naik. Dengan kondisi ini, maka banyak masyarakat yang memilih untuk mencari alternatif berlibur yang murah meriah dan dekat, seperti warga Surabaya akan lebih banyak yang memilih berlibur ke Kebun Binatang Surabaya (KBS) dibanding ke berbagai lokasi wisata diluar daerahnya.

Sehingga jumlah wisatawan domestik yang menghabiskan libur akhir tahun ke luar kota juga tidak banyak, dipirkirakan hanya akan naik sekitar 30%. Kondisi ini sangat berbeda dibanding tahun lalu yang mampu naik diatas 50% lebih.

“Kalau tempat wisata dalam negeri yang menjadi jujukan dan menjadi trend setter saat ini adalah Raja Ampat dan Lombok. Tetapi biaya ke Raja Ampat sangat mahal, maka sebagian besar masyarakat lebih memilih ke Lombok. Sedangkan tempat wisata lama, seperti Bali, Jogjakarta, Bandung juga masih tetap banyak peminatnya. Kalau di Jatim, masih Surabaya, Malang dan Batu,” katanya. (wh)