Akademisi Dukung Pembangunan Alun-Alun Suroboyo

Akademisi Dukung Pembangunan Alun-Alun Suroboyo

Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya membangun ruang publik berupa Alun-Alun Suroboyo terus mendapat dukungan dari kalangan. Selain dari masyarakat sipil, dukungan juga datang dari akademisi. 

Salah satunya, Pakar Tata Kota ITS Surabaya Haryo Sulistyarso. Dia menegaskan mendukung penuh rencana Pemkot Surabaya membangun ruang publik seperti Alun-Alun Suroboyo. 

“Saya berharap jangan sampai ini lepas dari kendali kita. Sayang sekali menurut saya, karena itu dahulu riwayatnya merupakan aset pemkot,” kata Haryo, Selasa (23/4/2019). Penegasan ini terkait pembangunan Alun-Alun Suroboyo yang masih terkendala masalah lahan di Jalan Pemuda 17.

Haryo mengimbau kepada Pemkot Surabaya agar ke depannya lebih intens lagi menjaga aset. Tujuannya, agar tidak ada lagi lahan atau aset pemkot yang menjadi sengketa.

“Aset pemkot memang harus dijaga dan diarsipkan dengan baik. Jangan sampai lepas dari tangan kita,” tuturnya.

Haryo juga berpesan kepada Pemkot Surabaya agar lebih bijak menyikapi antara kepentingan aset untuk masyarakat, pengusaha swasta, dan beberapa orang yang punya kepentingan.

“Saya mendukung pembangunan-pembangunan untuk public space, namun kembali lagi, pemkot harus berjuang mengupayakan itu,” ujarnya.

Menurut Haryo, Pemkot Surabaya harus mengupayakan lahan itu dengan sungguh-sungguh. Jalur hukum memang harus ditempuh untuk mempertahankannya.

“Saya sangat mendukung direalisasinya fasilitas publik ruang terbuka hijau, taman-taman, tempat bermain, alun-alun. Saya tekankan sekali lagi, sangat disayangkan kalau aset-aset pemkot lepas,” terang Haryo.

Benny Poerbantanoe, arsitektur dan perencanaan wilayah kota dari Universitas Kristen Petra, juga mendukung dan bersikap positif setiap keputusan Pemkot Surabaya. Termasuk rencana pembangunan ruang terbuka publik berupa Alun-Alun Suroboyo.

“Kalau bicara arsitektur, alun-alun itu biasanya dikelilingi kantor kabupaten, masjid, penjara, dan tempat belanja,” kata Benny.

Kata dia, kawasan Balai Pemuda dinilai wilayah yang strategis. Berperan sebagai gerbang menuju Balai Kota, dan menjadi entry point. Bangunan Balai Pemuda ini dapat mengatur komposisi simetri dan bangunan yang bentuknya laras.

Akademisi Dukung Pembangunan Alun-Alun Suroboyo

“Jadi di utara ada poros di bagian Jalan Yos Sudarso, kemudian dijemput Jalan Panglima Sudirman. Sebuah persimpangan biasanya punya peran khusus, yakni gerbang akan menganut komposisi simetri ada bangunan yang bentuknya laras, dan paling penting tidak kehilangan entry poin nya,” jelas Benny.

Tak hanya membahas seputar bentuk dan istilah bangunan, Benny juga mendorong Pemkot Surabaya mempertahankan aset pemerintah itu. Langkah hukum harus ditempuh untuk merebut aset yang sudah selayaknya menjadi milik pemkot. Akan tetapi, jika jalur hukum belum berhasil, Pemkot dan PT Maspion seharusnya mencari jalan tengah agar semuanya tetap berjalan.

“Ya lanjutkan, jangan mau kalah. Kita harus melanjutkan, jalur hukum tetap ditempuh. Coba direbut, kalau pun tetap buntu, coba kompromi,” imbuhnya.

Setelah kalah banding dengan PT Maspion di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jawa Timur, Pemkot Surabaya akan mengambil upaya hukum untuk tetap mempertahankan aset pemkot di Jalan Pemuda 17, yang nantinya akan digunakan untuk alun-alun Suroboyo.

Kepala Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah Kota Surabaya Maria Theresia Ekawati Rahayu memastikan akan terus menempuh langkah hukum untuk menyelamatkan aset Jalan Pemuda 17 itu. Namun begitu, ia mengaku akan terus berkoordinasi dengan pihak pengacara Pemkot Surabaya dan pengacara negara atau kejaksaan. (wh)