Ajarkan Cara Desain Arsitektur Profesional

Ajarkan Cara Desain Arsitektur Profesional
foto: Humas ITS Surabaya

Kompetisi Tugas Akhir (KTA) mewarnai rangkaian peringatan Dies Natalis 50 tahun Jurusan Arsitektur ITS. KTA yang berskala nasional yang berlangsung di Ruang Djelantik Jurusan Arsitektur, Kamis (3/9/2015), ini pun mulai berinisiasi memanggil juri berskala internasional.

Tak semata menilai peserta, para juri pun berhasil membuka pikiran peserta dalam metode desain arsitektur. Pembelajaran langsung cara desain arsitektur profesional pun secara tak langsung didapatkan dalam kegiatan ini.

Kompetisi yang diikuti 77 mahasiswa arsitektur dari 25 Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia ini, diseleksi dalam berbagai tahap dan meloloskan tujuh nominator untuk presentasi di hadapan dua juri arsitek profesional dan satu juri akademisi, yakni dosen di beberapa universitas terkemuka di dunia.

Namun, hal ini ditekankan lagi Ketua Panitia KTA, Dr Arina Hayati ST MT, bahwa tujuan utama adalah bukan berkompetisi secara personal. “Kita tahu bahwa karya terbesar mahasiswa adalah pada Tugas Akhir-nya, maka di sini kita manfaatkan sebagai benchmark seluruh PTN di Indonesia. Tujuan utama bukanlah berkompetisi, melainkan agar kita satu sama lain memahami pendidikan arsitektur di berbagai PTN itu seperti apa,” paparnya mengingatkan.

Walaupun hasil akhir terdapat yang menang dan yang kalah, tetapi orientasi KTA ini bukanlah kompetisi para mahasiswa arsitektur. Sehingga, penilaian umum yang dilakukan hanyalah ide dan konsep desain, estetika dan presentasi. Komentar para juri pun semata membuka wawasan peserta melalui pengalaman belajar arsitektur dan seninya, salah satu juri yang berbeda dari KTA sebelumnya adalah Kevin Mark Low. Penggunaan bahasa internasional bukanlah termasuk penilaian dalam hal ini, sehingga peserta tidak terbebani dalam kompetisi semi internasional ini. Kevin Low sendiri hanya menantang peserta dengan komentarnya dalam bahasa asing yang membangun dan mengubah mindset peserta.

“Seperti yang diceritakan Kevin tentang pengalaman pendidikannya di MIT (Massachusetts Institute of Technology, red) hingga pernah menjadi dosen di MIT pula, bahwa membangun sesuatu itu bukanlah mencari solusinya, tapi buatlah pertanyaannya. Berikan isunya, kasih clue-nya, itu pun yang diterapkan di ITS dalam kurikulum baru kita. Memberikan soal dalam bentuk clue,” ungkap Arina.

Sehingga, lanjutnya, dengan kreativitas dan jalan pikir yang berbeda tersebut, mahasiswa masing-masing punya cara unik dalam menjawabnya. Dilanjutkan pula oleh Arina, tentang apa yang didapatkan dari juri asal Malaysia tersebut tentang bagaimana mempertimbangkan permintaan seseorang yang beragam. Dengan membuat solusi, maka kita akan menggambarkan suatu fungsi itu penting, tetapi secara keseluruhan keinginan klien pastilah tidak sedikit.

Maka, dengan isu dan clue tersebut, seorang arsitek akan terbiasa menghadapi keinginan-keinginan yang beragam.   Dari kompetisi ini, secara tidak langsung, peserta diajarkan metode desain yang sangat bagus. Menyadarkan kepada mereka untuk tidak selalu bangga dengan sesuatu hal yang besar, padahal ada hal-hal sepele yang menunjangnya dan pastinya lebih penting malah tidak diperhatikan.

“Begitulah yang diajarkan Kevin Low kepada kita sangat logic dan mudah dipahami,” pungkas dia. (wh)