Ajari Pelaku UKM “Uang Dingin” dan “Uang Hangat”

Ajari Pelaku UKM “Uang Dingin” dan “Uang Hangat”
Launching Pahlawan Ekonomi 2015 yang didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Kaza City, 31 Mei 2015. Foto: sandhi nurhartanto/enciety.co

Kesuksesan pelaku usaha kecil menengah (UKM) tidak cukup hanya dengan memperbaiki kualitas produksi dan pemasaran. Mereka harus benar-benar memiliki pemahaman tentang pengelolaan keuangan modern. Apalagi ke depan tantangan dan persaingan semakin sengit. Berikut lanjutan laporan enciety.co.

INI kisah tentang Choifiyah. Usianya 70 tahun. Ibu yang satu ini punya spirit usaha yang pantas ditularkan. Sebelum bergabung dengan Pahlawan Ekonomi, ia nyaris putus asa. Gara-garanya, beberapa kali dia mengajukan diri bergabung pelatihan usaha di sejumlah instansi selalu ditolak. Penyebabnya satu: usia. Ya, wanita yang karib disapa Bu Jai ini, tidak tahu penyebabnya. Barangkali dianggap tidak muda lagi. Dianggap sulit berkembang.

Suatu ketika, Choifiyah memberanikan diri curhat ke Tri Rismaharini (saat itu menjabat wali kota Surabaya, red). Intinya, dia ingin sekali ikut pelatihan wirausaha. Dia ingin bisa menghidupi dirinya sendiri, dan juga keluarganya.

“Saya wadul Bu Risma (panggilan karib Tri Rismaharini, red). Beliau tersenyum dan membesarkan hati saya,” ucap Bu Jai, mengenang.

Hingga akhirnya, Bu Jai direkom wali kota yang berulangkali menyabet penghargaan internasional itu, bergabung dengan Pahlawan Ekonomi. Tepatnya pada tahun 2010. Hati Bu Jai berbunga. Saban ada pelatihan dia tidak pernah absen.

Suatu ketika, Bu Jai kepincut membuat kue lapis Surabaya. Awalnya tak berjalan mulus. Berulang kali gagal membuat lapis Surabaya yang enak, Bu Jai tak patah semangat. Tidak ada kamus gagal selain mencoba sekali lagi.

Kerja keras Bu Jai berbuah manis. Lapis Surabaya bikinannya kemudian dipilih sebagai yang terbaik dalam lomba di Pahlawan Ekonomi. Bu Jai makin bersemangat. Dia lalu memutuskan membuat kelompok usaha bersama ibu-ibu di sekitar rumahnya, di kawasan Bendul Merisi, Surabaya. Namanya Dapur Flamboyan.

Lewat Dapur Flamboyan inilah Bu Jai bersama 6 ibu lainnya bekerja keras membuat lapis Surabaya bercita rasa tinggi. Akhirnya, setelah sekian kalinya mencoba perempuan yang sudah memiliki 9 cucu ini berhasil.

“Saya coba-coba mulai dari adonannya dimodifikasi sampai cara memasaknya pun ada cara khusus,” bebernya.

Saat ini, Lapis Surabaya bikinan Bu Jai sudah terkenal. Bahkan kue racikannya dipesan rutin oleh Citilink. Tidak hanya itu, produk lapis Surabaya Bu Jai sudah dikirim ke berbagai daerah. Di antaranya di Papua, Kalimantan Barat, Batam, dan Jakarta.

Meski sudah meraup omzet lumayan besar, Bu Jai masih tetap ingin belajar. Makanya, ketika disodori formulir mengikut pelatihan literasi keuangan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Mei 2015, dia menyambut gembira.

Dalam pelatihan tersebut, Bu Jai dan para pelaku usaha kecil menengah (UKM) diperkenalkan tentang semua instrumen investasi. Juga pentingnya pelaku UMK memiliki  dua sandaran. Pertama, “uang dingin”, yakni uang yang biasanya ditabung atau didepositokan. Dengan bekal pengetahuan penggunaan keuangan mereka bisa menginvestasikan lewat saham atau obligasi. Kedua, ada “uang hangat”. Dimana pelaku UMK bisa menggunakan uang untuk keperluan produksi dan mencukupi kebutuhan keluarga.

Dengan menggunakan instrumen investasi, keuntungan yang diraih UMK bakal lebih cepat. Peluang untuk memperbesar usaha pun menjadi lebih besar.

Manajemen Risiko

Direktur Enciety Business Consult Doddi M. Judanto menuturkan, peran OJK sangat dibutuhkan untuk mendorong kegiatan para pelaku UKM. Menurut dia, pelaku UKM butuh kemudahan akses untuk mendapatkan modal dari industri jasa keuangan.

“Harapannnya untuk kepentingan pembiayaan usaha. Kalau pelaku usaha bisa mendapatkan lebih murah, suku bunganya dapat ditekan, itu sangat menolong sekali,” ujar Doddi.

Ia lalu menyebut visi OJK. Dimana, OJK menjadi lembaga pengawas industri jasa keuangan yang terpercaya, melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat, dan mampu mewujudkan industri jasa keuangan menjadi pilar perekonomian nasional berdaya saing global serta dapat memajukan kesejahteraan umum.

Dia menambahkan, para pelaku UKM harus memahami bagaimana caranya mereka mengelola keuangan dari hasil usahanya. Termasuk memahami risiko-risiko dari pengelolaan dan produk keuangan yang ada saat ini.

“Yang perlu dipahami, para pelaku UKM harus dapat melindungi usahanuya. Mereka juga harus bisa mewariskan usahanya kepada keluarganya,” ujar dia.

Doddi mengibaratkan bila karyawan pensiun, dia tidak bisa diteruskan oleh anak. Berbeda dengan pengusaha yang bisa diteruskan usahanya oleh anak hingga cicitnya.

Kata dia, ada tiga tujuan bila pelaku UKM paham mengenai pengelolaan keuangan. Pertama, supaya dapat melindungi usaha dari berbagai risiko dari kerugian, sakit, bahkan tidak bisa meneruskan usaha. Kedua, mengembangkan usaha dan menyejahterakan keluarga. Ketiga, berguna untuk melestarikan usaha. Juga ada jaring untuk menghindari dari risiko keuangan seperti kehilangan modal, kerugian, dan inflasi.

“Para pelaku UKM patut mengetahui risiko pasar seperti produk dan jasa serta persaingan. Risiko hukum juga harus diketahui seperti tanggung gugat dan perubahan aturan. Risiko-risiko ini harus diperhitungkan oleh pelaku UKM agar tetap survive,” papar Doddi.

Masih menurut Doddi. Ada tiga cara mengelola risiko agar pengusaha tidak terkena terlalu besar dampaknya. Pertama, menghindari risiko contohnya keselamatan kerja, melengkapi perizinan, menjaga kualitas produk dan jasa. Kedua, mengalihkan risiko kepada pihak lain seperti asuransi. Ketiga, mempersiapkan konsekuensi terjadinya risiko contoh mengatur penghasilan atau pendapatan, menyiapkan dana cadangan atau darurat.

“Dengan mengatur penghasilan atau pendapatan, meskipun memakai modal sendiri, namun biaya modal tetap harus diperhitungkan,” papar dia.

Saat ini, sambung Doddi, pelaku UKM bisa memanfaatkan OJK yang bertugas mengatur, mengawasi bank-bank, pegadaian, leasing, serta lembaga jasa keuangan di seluruh wilayah Indonesia.

“OJK bertujuan untuk melindungi nasabah atau konsumen dan mampu mewujudkan industri jasa keuangan menjadi pilar perekonomian,” jelasnya.

Bila pelaku UKM mengetahui masalah keuangan dengan Lembaga Jasa Keungan bisa melaporkan ke OJK. Namun sebelum ke OJK, nasabah harus berusaha menyelesaikan masalah dulu ke Lembaga Jasa Keuangan (LJK). (wh/bersambung)