AIRC Unair Ingatkan Bahaya Virus Baru Flu Burung

AIRC Unair Ingatkan Bahaya Virus Baru Flu Burung

Penyebaran kasus virus flu burung (Avian Influenza/AI) yang membuat 3.455 ekor bebek di Sragen, Jateng mati dan dapat menular ke tubuh manusia, dampaknya mengkhawatirkan.

Ketua Avian Influenza-Zoonosis Research Center (AIRC) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr CA Nidom mengatakan, sebenarnya kasus matinya bebek akibat virus AI yang mengemuka saat ini merupakan akumulasi dari kematian bebek mulai akhir Januari 2014 lalu. Namun karena virus itu kurang mendapat penanganan, angka kematian bebek makin banyak hingga ribuan ekor.

“Padahal, kasus flu burung yang terjadi pada tahun 2009 lalu, masih belum tertangani betul. Kini muncul lagi virus baru yang kini menyerang bebek,” katanya.

Menurutnya, semakin lambat penanganan virus AI maka akan semakin kompleks kasusnya. Namun ia belum tahu persis apakah jenis virus AI yang menyerang bebek di Sragen, apakah virus lama atau virus baru.

Namun ia menduga, 3.455 ekor bebek di Sragen mati mendadak itu akibat perkawinan atau gabungan virus lama dan virus baru AI. Jika memang demikian, ia menyebutkan penanganan virus itu jauh lebih rumit karena virus itu merupakan virus gabungan.

“Saya khawatir jika virus AI ini dibiarkan dan penanganannya tidak terkendali, maka dapat membahayakan manusia karena meloncat ke tubuh manusia,” ujarnya.

Apalagi, dia melanjutkan, media penularan virus AI semakin luas. Jika virus AI jenis lama hanya menular melalui udara, sedangkan virus AI yang baru dapat menular melalui udara dan air.

Untuk mengatasinya, kata Nidom, ada beberapa langkah. Langkah pertama, mengevaluasi cara penanganan dan pengendalian virus AI. Dia menambahkan, untuk memberantas virus AI maka butuh upaya pengendalian dengan mengikuti perilaku atau karakteristik virus itu.

“Virus ini berperilaku bukan untuk membunuh tetapi memperbanyak diri. Virus AI ingin mempertahankan hidup namun tidak mempunyai kelengkapan tubuh, sehingga virus AI menumpang di tubuh hewan seperti bebek,” ujarnya.

Dengan mengetahui karakteristik virus AI, dia melanjutkan, peternak dapat langsung mengetahui penyebaran virus AI dan kemudian melapor ke dinas peternakan setempat. Jika penyebaran virus AI sudah diketahui sejak awal, maka penanganannya semakin mudah. Langkah kedua, mengubur bangkai hewan yang terkena virus AI. Kedalaman kuburan yang ideal sedalam satu meter.

Ia menawarkan, sampel bangkai hewan itu dapat dikirim ke pihaknya untuk mengetahui secara pasti jenis virus AI.  “Pengiriman sampel bisa dikirimkan ke saya untuk dianalisis tanpa dipungut biaya,” pungkasnya.(wh)